Nasibmu' sebagai muslim saat ini

Nasibmu' sebagai muslim saat ini


Kompleks. Kompleks banget. Bahwa eropa adalah negeri impian karena pada fitrahnya manusia menyukai keindahan dan kebersihan ditambah dengan sistem sosial, kesehatan, pendidikan yang baik maka wajar banyak dari mereka (re: pengungsi) berharap akan kehidupan yang lebih baik dan layak di eropa.
Tapi apakah dengan tinggal di eropa menjadi ending yang bahagia untuk mereka?
Sayangnya ada beberapa manusia yang digolongkan sebagai oportunis sejati. Tidak segan mereka memanfaatkan situasi serba susah saat ini dengan berpura-pura menjadi pengungsi hanya untuk mendapatkan uang dan bantuan.
Lebih jauh, bahkan mereka tega mengkambinghitamkan para pengungsi (yang sungguh-sungguh merupakan korban perang) dengan melakukan tindakan brutal (pemerkosaan, pemalakan, perampokan, pencurian) kepada warga lokal dimana akhirnya membuat warga lokal menjadi sensitif terhadap isu 'pengungsi' ini.
Difitnah, ancaman deportasi, adanya perdagangan manusia, sulitnya mendapatkan pekerjaan, respon warga lokal yang tidak baik...
Kurang apa coba penderitaan mereka?
Di tengah perjuangan muslim sebagai minoritas disana untuk memperbaiki wajah Islam, kok masih ada sekumpulan manusia yang bisa-bisanya 'sengaja' melakukan tindakan terorisme dengan jihad sebagai dalihnya dan dengan bangga mengaku bertanggung jawab atas terjadinya ledakan bom di Brussels kemarin.
Guess why?
Eropa akhir-akhir ini memang sangat digempur sekali dengan isu terorisme, pengungsi, dan Islam dengan propaganda media sebagai senjata utamanya. Bagi mereka Islam itu identik dengan teroris. Bagi mereka pengungsi itu sumber masalah. Titik. Dan pengungsi-pengungsi itu kebanyakan beragama Islam kan? Jadi Islam itu sudah teroris pun sumber masalah juga. Komplit.
Salahkah mereka menyudutkan Islam seperti itu? Tidak juga. Terlepas mungkin memang terdapat beberapa kejadian negatif dengan Muslim sebagai dalangnya toh media juga tidak berimbang dalam menyampaikan kebenaran yang ada. Yang terjadi sekarang adalah double standard yang dilakukan banyak media massa. Simpati dan empati aja pilih-pilih. Dikira nyawa manusia itu makanan..
Kita tidak pernah tahu siapa pelaku pasti di balik semua ini (you know teori konspirasi ini itu) tapi kita tahu persis siapa korban dari semua peristiwa ini. Innocent people, pitiful refugee, and of course, muslim, muslim, and muslim. And yes for everything bad happens it is muslim who will always be blamed.
Dan apa yang paling menohok? Ketika korban yang disebutkan di atas justru yang paling merasa bersalah atas apa yang terjadi dan meminta maaf untuk suatu hal yang tidak mereka lakukan. And idiot people will never appreciate that.
Mungkin tidak ada kesimpulan dari tulisan di atas. Hanya ingin mengutarakan kekesalan dan makin merasa upil karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan ini...
Reference: statused by Raidah Athirah

-Arina Shafa-

Ironi LCS di Hari Nelayan Nasional

Belum lama ini kita dikagetkan dengan insiden penangkapan kapal nelayan China, KM Kway Fey dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut China Selatan. Jika dikaitkan dengan momen saat ini, yakni Hari Nelayan Nasional sebenarnya insiden ini cukup membuat kita gerah. Bagaimana tidak? di tengah gencarnya pemerintah mengkampanyekan pentingnya menjaga SDA laut Indonesia untuk masa depan dengan disahkannya beberapa kepres yang melarang penggunaan pukat (trawl) di saat yang bersamaan pula nelayan China di wilayah Indonesia secara ilegal melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan pukat.



Penggunaan pukat memang membawa dampak buruk bagi lingkungan maupun bagi nelayan tradisional, yang merupakan mayoritas nelayan di Indonesia. Saat ini penangkapan menggunakan pukat banyak dilakukan oleh kapal-kapal asing yang bertonase besar. Dengan demikian hasil tangkapan mereka jauh lebih tinggi daripada hasil tangkapan nelayan tradisional. Hal ini tentu memberikan dampak buruk. Pertama jumlah ikan di lautan akan berkurang dan ini juga berdampak pada berkurangnya jumlah tangkapan ikan nelayan tradisional Indonesia. Selain itu penangkapan ikan menggunakan pukat dapat mengancam persediaan ikan di masa mendatang. Karena jaring yang digunakan pada metode ini memiliki lubang yang lebih kecil dibandingkan jaring yang digunakan nelayan tradisional. Sehingga tidak memberi kesempatan bagi ikan-ikan kecil sekalipun untuk menjadi besar dan berkembang biak. Mungkin kita pernah menonton film animasi "Nemo" sang ikan badut, nah kira-kira seperti itulah bahayanya pukat (trawl), bedanya ini teradi di dunia nyata, dan di Indonesia.

Kembali lagi ke kasus insiden di laut china selatan. Jakarta memang telah melayangkan protes ke Beijing. Namun tanggapan pemerintah China atas insiden ini tidak lebih dari tanggapan yang arogan. Mereka menganggap bahwa wilayah tersebut masih termasuk wilayah China. Klaim ini didukung dengan masuknya wilayah perairan ini ke dalam kawasan wilayah tradisional penangkapan ikan China. Padahal alasan tersebut tidak dapat diterima dalam hukum internasional. Mungkin karena China kini telah merasa kuat dengan kebangkitan ekonominya juga kekuatan militernya yang dari tahun-ketahun selalu mendapatkan kenaikan anggaran maka mereka berani melakukan tindakan arogan semacam itu. Dan tindakan semacam ini sebelumnya pun sudah dirasakan oleh negara-negara Asean lainnya seperti Vietnam, Filipina dan Malaysia.

Saatnya melawan!
Tindakan arogansi China sudah sepatutnya kita lawan. Jika di zaman pemerintahan SBY Indonesia memiliki jargon Zero Enemy, sudah selayaknya Pemerintah sekarang mengganti jargon itu. Mari buktikan bahwa visi Indonesia sebagai poros maritim dunia bukan cuma retorika belaka yang dijajakan ketika pilpres saja. Tetapi visi itu harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan nyata. Ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalah dengan China ini.

Evaluasi ulang kerjasama ekonomi
Beberapa tahun belakangan China memang getol sekali menanamkan modal ke negara-negara berkembang. Perilaku China tersebut diduga bertujuan agar ekonomi di negara-negara berkembang semakin membaik, ketika ekonomi di negara berkembang baik maka otomatis negara-negara berkembang tersebut yang juga merupakan konsumen produk-produk China diharapkan dapat lebih “konsumtif” sehingga memberikan dampak positif juga ke perekonomian China. Sekilas skema ini terlihat menarik, seperti simbiosis mutualisme. Namun yang namanya pinjaman tentu punya syarat yang harus dipenuhi. Syarat ini lah yang kadang dijadikan “tali pengekang” bagi pemberi pinjaman ke negara peminjam. Dalam kasus Laut China Selatan ini, tentu apabila kita ingin memiliki kekuatan diplomasi yang baik maka “tali pengekang” ini harus kita tanggalkan. Seperti perkataan presiden Jokowi pada Perayaan Konferensi Asia Afrika tahun lalu di Bandung, beliau mengajak pemimpin-pemimpin negara lain untuk membentuk tatanan ekonomi dunia yang baru, yang menghilangkan dominasi negara atas warga negara lain. Semoga perkataan beliau bukan hanya hal simbolis seperti yang dituduhkan salah satu petinggi IMF terhadap Jokowi.

Perkuat Militer dan Industrinya
Ada ungkapan yang cukup masyhur di dunia kemiliteran, “Jika kita ingin kedamaian, maka kita harus siap berperang”. Sebuah ungkapan yang menurut saya tidak salah. Karena ketika kita memiliki postur pertahanan negara yang kuat maka akan memperkecil kemungkinan negara lain untuk mengusik Indonesia, yang berarti potensi konflik pun akan semakin kecil.

Saat ini Indonesia memiliki program Military Essential Force (MEF) II, sebuah program yang digagas Presiden SBY untuk mengembalikan kekuatan TNI pada kekuatan minimalnya. Itu artinya saat ini kekuatan TNI masih belum optimal. Jangankan maksimal, minimal saja belum. Untuk itu di MEF II pemerintah banyak mendatangkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) baru mulai dari Main Battle Tank Leopard dari Jerman, Landing Platform Dock dan kapal selam dari korea selatan, panser dan pesawat sukhoi dari Rusia, f-16 (bekas) dari Amerika, rudal-rudal dari China dan banyak lagi.

Namun daya deterensi militer suatu negara tidak dapat diukur hanya dari jumlah alutsistanya saja. Tetapi juga dari penguasaan teknologi militernya. Karena bagi negara yang memiliki banyak alutsista namun tidak menguasai teknologinya akan mudah sekali disetir negara produsen. Seperti yang terjadi saat pergelaran pasukan TNI di Aceh untuk menumpas GAM. Amerika dan sekutunya sepakat memboikot Indonesia sehingga banyak alutsista Indonesia yang tidak bisa operasional karena ketiadaan sparepart, tentu kita tidak ingin hal itu terulang kembali. Untuk mengatasi hal itu undang-undang telah mengamanatkan adanya skema Transfer of Technology (TOT) dalam setiap pembelian alutsita ke luar negeri. Skema TOT adalah skema pembelian alutsista yang mensyaratkan adanya pemberian teknologi dari negara penjual ke Indonesia. Teknologi yang sudah didapatkan akan dikembangkan dan dimanfaatkan oleh industri strategis dalam negeri seperti Pindad, PT.PAL dan PT.DI.
Selain TOT, industri-industri pertahanan dalam negeri juga butuh dukungan lain berupa kepastian penjualan. Pemerintah Indonesia harus menjadi konsumen pertama produk-produk industri dalam negeri tersebut. Alutsista yang sudah mampu diproduksi di dalam negeri, jangan sampai kita membelinya dari luar negeri. Sehingga diharapkan industri-industri strategis tersebut dapat berkembang dan ke depannya dan semua kebutuhan TNI dapat terpenuhi oleh produksi dalam negeri dengan harga yang jauh lebih murah serta kepastian pelayanan purna jual yang bebas dari boikot.

Semoga dengan melakukan tindakan-tidakan nyata di atas konflik di Laut China Selatan antara Indonesia dengan China tidak terulang kembali. Selamat hari nelayan nasional, semoga pula sumber daya alam kita di lautan dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteran nelayan dan bangsa Indonesia.

Muhammad Iqna Syarhuddin
Ketua PK KAMMI Teknik
Universitas Diponegoro

modul autocad

KammiFTUndip2015 presents : modul autocad 2007 monggo bagi yang membutuhkan bisa mendownload link berikut
semoga bermanfaat ya

KAMMI TEKNIK UNDIP MERAIH EMAS DI OLIMPIADE RAMADHAN.
Sabtu (4/7) bertempat di pelataran Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah, KAMMI Semarang mengadakan Olimpiade Ramadhan dalam rangka memeriahkan bulan puasa. Olimpiade ini diikuti oleh beberapa peserta dari universitas-universitas yang ada di Semarang. Berbagai macam cabang dilombakan dalam olimpiade kali ini seperti video profil, debat, ranking 1, tahfizh dan stand up comedy.
KAMMI Teknik sebagai salah satu komisariat yang berpusat di Universitas Diponegoro mengirimkan atletnya untuk bertanding di tiga cabang yakni ranking 1, debat dan stand up comedy. Kontingen KAMMI Teknik yang diwakili oleh beberapa mahasiswa diantaranya adalah Rizqy Faza yang berlomba di cabang Stand Up, Taqiyuddin Ja’far, M Faris Ihsan, dan Nafis sebagai tim yang berlomba di cabang Debat.
Jalannya pertandingan berlangsung cukup seru. Namun disayangkan, tim debat yang maju di babak penyisihan harus tersingkir dari kontingen KAMMI Fathahilah Universitas Negeri Semarang dengan skor yang cukup tipis. Begitu juga dengan lomba ranking 1 yang akhirnya dimenangkan oleh kontingen dari KAMMI Unnisula.
Perjuangan kontingen KAMMI Teknik tidak sia-sia. Rizqy Faza, sebagai satu-satunya perwakilan KAMMI Teknik yang berlomba diajang Stand Up Comedy berhasil merebut medali emas setelah sukses memukau dewan juri dengan komedi-komedi cerdasnya.

Tidak cukup dengan satu emas, KAMMI Teknik juga berhasil satu perunggu dalam lomba Video Profil. Semoga pencapaian yang diraih oleh KAMMI Teknik bisa menjadi penyemangat agar meraih hasil yang lebih baik di kemudian hari. (rmd)

OPEN RECRUITMENT KAMMI FT 2015




Catat ya tanggal pentingnya :)

Pendaftaran     1-10 Mei 2015
                       Pendaftaran Online di  http://goo.gl/forms/CjROL2m9KE
                       atau Pendaftaran On The Spot. Ikhwan : masjid Al-Huda, Akhwat : Wisma Tsabita

Interview         9-11 Mei 2015
                       Akhwat : Komisariat Teknik Undip ( Wisma Tsabita )
                       Ikhwan  : Masjid Al-Huda Perumda
                       Interview dibuka dari pukul 08.00-11.30 WIB dan 12.30-15.00 WIB

Pengumuman   15 Mei 2015
                       Pengumuman hasil seleksi akan di umumkan di kammiftundip.blogspot.com dan @kammiftundip 

More info   :    Yusup L ( 085776639834 )
                       Yani       ( 089697532049 )

Aksi #BangunDongJokowi KAMMI Semarang

Minggu pagi, tanggal 22 maret 2015. Beberapa pemuda dan pemudi berjaket merah dengan label Muslim Negarawan di punggung terlihat lalu lalang di kawasan Car Free Day Simpang Lima kota Semarang. Pada hari tersebut akan dilakukan sebuah aksi damai untuk membangunkan Bapak Presiden Republik Indonesia Ir.H.Joko Widodo dari tidur panjangnya yang seolah acuh tak acuh terhadap serangkaian polemik di republik ini.
Puluhan mahasiswa, dari berbagai perguruan tinggi di Semarang yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Semarang berkumpul dan membaur menjadi satu melakukan konsolidasi untuk melangsungkan aksi damai yang akan dilakukan.
Tepat pada pukul 07.20 acara dimulai. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” secara bersama-sama yang membuat badan merinding kemudian disusul denga orasi pertama yang disampaikan oleh ketua KAMMI Semarang, M.Khanif Nasuka yang menyampaikan bahwa,  “Pak Jokowi sebagai presiden harus bangun dari tidur panjang, harus membuka mata atas apa yang telah terjadi di negeri ini, berhenti melakukan pencitraan, dan sesegera mungkin bekerja untuk negara.”

Hidup Mahasiswa..
Hidup Mahasiswa..
Hidup Mahasiswa..

Pekikan kalimat tersebut diiringi dengan lagu “Buruh Tani” menghias langit semarang selama orasi berlangsung. Setelah orasi selesai, aksi damai dilanjutkan dengan pertunjukan teatrikal sederhana yang diperankan oleh mahasiswa kader Kammi sendiri. Teatrikal yang dilangsungkan benar-benar menggambarkan kondisi terkini bangsa Indonesia secara kompleks, mulai dari konflik KPK dengan Polri, permasalahan Sumber Daya Alam yang masih banyak dikuasai asing, hingga rupiah yang diilustrasikan sedang diinjak-injak oleh dollar karena nilainya yang terus melemah. Menariknya, dalam teatrikal tersebut Bapak Presiden Jokowi digambarkan sedang tertidur pulas tidak peduli dengan seluruh masalah yang tengah terjadi.
Aksi kali ini benar-benar menyita perhatian banyak masyarakat yang tengah berolahraga. Kammi Semarang juga membagi-bagikan stiker berbentuk hati kepada para masyarakat yang mana stiker tersebut akan ditempelkan di spanduk bertuliskan “Jokowi Turun Tahta” atau “Jokowi Turun Tangan”, dan hasilnya, mayoritas dari mereka menempelkan stiker berbentuk hati tersebut ke bagian “Jokowi Turun Tangan” meskipun tidak sedikit pula masyarakat yang menempelkan stikernya ke bagian “Jokowi Turun Tahta. Hal tersebut menandakan bahwa, mayoritas publik semarang masih mempercaya Presiden, hanya saja Presiden diminta untuk segera bergerak mengatasi seluruh polemik yang ada di negeri ini.
Jalannya aksi cukup berjalan dengan sukses dan damai. Semoga aksi kecil yang kami lakukan dapat benar-benar membangunkan pak Presiden dari sikap diamnya terhadap serangkaian masalah yang tengah terjadi. Aksi KAMMI ditutup dengan dua orang anak kecil yang berteriak dengan gagahnya kepada Bapak Presiden yang nun jauh disana, “Pa Jokowi, cemungut yaaa!!!”

penulis : Afan R

KAMMI Teknik Resmikan Rumah Baca Asma Nadia Desa Rowosari

Anak-anak sedang memilih buku bacaan di Rumah Baca Asma Nadia Desa Rowosari
Semarang, Pershum KAMMI FT - Minggu (21/12) Pengurus Komisariat KAMMI Teknik Undip meresmikan Rumah Baca Asma Nadia (RBA) Desa Rowosari. Rumah Baca untuk anak-anak pertama di Desa Rowosari ini berhasil dibuka berkat kerja sama dari KAMMI Teknik Undip dengan pihak Rumah Baca Asma Nadia.
Pembukaan RBA Desa Rowosari ini mendapat respon yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya anak-anak yang datang ke acara pembukaan, mereka terlihat sangat antusias untuk membaca buku-buku yang disediakan di sana. Aisyah, salah satu dari anak-anak yang menghadiri pembukaan RBA Desa Rowosari mengaku sangat senang karena kini ia memiliki banyak pilihan buku yang bisa dibaca. 
Menurut Ibu Oka, salah satu tokoh masayarakat di Desa Rowosari, pembukaan Rumah Baca di Desanya dinilai sangat tepat, mengingat belum adanya fasilitas serupa di desa ini. Di samping itu perpustakaan pun belum merata tersedia di sekolah-sekolah, sekalipun ada tetapi koleksi buku yang dimiliki masih belum banyak. RBA Desa Rowosari dinilai dapat melengkapi kekurangan itu.
Di tempat yang sama, ketua Departemen Soskemas KAMMI Teknik Undip, Faza menyampaikan bahwa harapannya RBA Desa Rowosari dapat memotivasi anak-anak di Desa tersebut untuk rajin membaca. Sehingga dengan begitu akan banyak ilmu-ilmu yang akan didapatkan oleh mereka. 
Mengenai agenda ke depan di Desa Rowosari, Faza mengatakan bahwa Insya Allah KAMMI Teknik Undip akan terus mengadakan kegiatan-kegiatan sosial sejenis yang harapannya dapat memberdayakan masyarakat di Desa tersebut.

Penulis : Muhammad Iqna Syarhuddin

100.000 Kader KAMMI Penggerak Kebangkitan atau Buih di Lautan

“Hati-hati terkecoh dengan kuantitas kader, tercatat di kertas namun ghaib di lapangan.”
Kader merupakan aset termahal dalam gerakan dakwah karena hakikat dakwah adalah pewarisan. Gerakan dakwah yang sukses mengelola kadernya akan menghasilkan barisan pejuang dakwah yang penuh berkah. Aktivitas keseharian yang dijalani tidak lepas dari syuro-syuro progressif, merumuskan kerja-kerja besar dan cerdas serta amal yang berkualitas dan sistematis. Tidak melulu disibukkan dengan permasalahan internal lantaran kader yang tidak militan, ukhuwah kurang, dan segudang permasalahan cemen lainnya.
Dalam Alqur’an Allah telah memberikan taujih tentang bagaimana mengelola kader. “Dan berapa banyak para nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa selain ucapan; “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.” Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. 3:146-148)
Dalam ayat tersebut, beberapa arahan yang diberikan Allah terkait pengelolaan kader sebagai berikut,
Pertama, Nabi membutuhkan pengikut dalam jumlah yang besar sebagai barisan mujahid fi sabilillah.
Kedua, mereka itu memiliki kualitas yang handal dalam medan perjuangan; tidak mudah lemah (‘adamu al wahn), tidak mudah lesu (‘adamu adh dha’fu), tidak gampang menyerah (‘adamu al istikanah).
Ketiga, mereka adalah orang-orang yang menyadari kelemahan dan kesalahan diri.

Memperbanyak jumlah memang perlu, namun kalau tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas maka tidak akan banyak berguna. Medan yang akan kita tempuhi adalah pertarungan antara haq dan bathil, yang mana Allah akan memenangkan mereka yang teguh menjaga nilai-nilai kebenaran dan persaudaraan bukan karena sebab materi dan jumlah.
Mungkin terlalu berlebihan kiranya jika kita mengharapkan kader-kader KAMMI yang telah dibina bisa sekelas HAMAS di Palestina. Tapi setidaknya mereka memenuhi kualifikasi Allah untuk dimenangkan di pertarungan yang tidak seberapa ini.

 “Orang yang merugi adalah mereka yang melalaikan sahabat-sahabatnya dan wajihah yang merugi adalah mereka yang melalaikan kader-kadernya.”
Diperkirakan jumlah kader KAMMI sampai saat ini mencapai 40.000 tersebar di seluruh Indonesia. Tentu saja sangat sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia di tiap tahunnya. Namun, pernahkah KAMMI melakukan evaluasi di tubuh KAMMI sendiri, dari 40.000 kader itu ada berapa yang benar-benar nyata di lapangan bukan hanya sekedar nama?? Mungkin tidak ada setengahnya jika kita berkaca pada komisariat masing-masing.
Dengan demikian, bisa jadi kemandegan dan kemunduran yang terjadi selama ini karena kealphaan kita sendiri. Kita lalai bahkan mungkin masih setengah-setengah dalam mengelola kader yang tersedia di depan mata baik secara kualitas maupun mentalitas yang kemudian berdampak pada kinerja dan pola pikirnya. Akibatnya, KAMMI tidak tercitrakan dengan baik. Perlu diketahui, secara pragmatis, untuk menarik daya terima Indonesia saat ini kita cukup membangun citra. Tentu saja citra yang dibangun dari kerja-kerja baik yang diistiqamahi bukan citra tipuan yang membodohi.

100 ribu kader KAMMI Penggerak Kebangkitan Indonesia
Betapa menggemparkannya 100 ribu kader KAMMI Penggerak Kebangkitan Indonesia itu. Dan akan lebih menggemparkan lagi jika kualifikasi kader yang dihasilkan adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surah Ali Imran:146-148 atau 100 ribu kader itu hanya akan menjadi laksana buih di lautan.


Bersyukurkah Kita?

Terkadang kita lupa, terhadap beberapa nikmat yang seolah-olah kita layak mendapatkannya tanpa usaha, sebab Allah memberikannya dengan mudah. Padahal di luar sana, banyak manusia terseok mencari nikmat-nikmat itu.

Mari berdiri di antara kerlap-kerlip kota, perhatikan mereka, beberapa anak kecil tertawa di bawah lampu lalu lintas, menjajakan koran dengn wajah kucel dan kusam. Tahukah kita berapa usia anak-anak itu? 5 sampai 12 tahun. Menolehlah sejenak ke arah samping ketika sedang melajukan kendaraan pada malam hari. Lihatlah mereka, tidur beralaskan tanah beratapkan langit. Dengan sandaran rolling door toko yang telah tertutup. Wajah-wajah mereka adalah wajah-wajah lelah yang telah seharian mencari nafkah. Bagi mereka, tidak ada rumah dari bata ataupun kayu. Bumi inilah rumah mereka, lantainya tanah, atapnya langit, hiasannya adalah terik matahari dan lebatnya hujan.
Atau terbangkan bayangan kita menuju Palestina, tanah para nabi. Tempat berdirinya Masjid suci bernama Al Aqsha yang kini tertawan. Tanyakan pada anak-anak di sana, bagaimana cara mereka hidup di antara dentuman roket, tank, dan ranjau. Bagaimana cara mereka tersenyum, padahal tanah mereka diisolasi dan diembargo habis-habisan. Tanyakan kepada mereka tentang cita-cita, kita akan temukan jawaban meluluhkan hati, "Aku ingin shalat di Masjidil Aqsha."

Ke timur Indonesia. Pemandangan alam yang hijau lebat, air laut yang bening biru, ternyata menyimpan sebuh potret penyimpangan UUD 1945. "Orang miskin dipelihara dan dirawat oleh negara." begitu tulisannya, namun berbeda faktanya. Anak-anak dengan perut buncit dan tulang berlapiskan kulit ada di sana, meninggal dunia karena busung lapar. "Sumber air sudekat", begitulah lelucon yang sering kita gambarkan tentang mereka.

Terkadang kita lupa, terhadap beberapa nikmat yang seolah-olah kita layak mendapatkannya tanpa usaha. Terlalu sibuk mengeluh, sampai lupa untuk berucap syukur. Padahal sungguh, segala nikmat itu tidak pernah bisa dibalas hanya dengan berucap, "Alhamdulillah" semata.

Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita bersama. Beruntung Allah memilihkan kita memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi orang dengan tangan diatas. Sudah saatnya untuk berhenti menggerutu terhadap nasib yang padahal jika dibandingkan dengan yang lain kita masih berada jauh diatas.

Sebab Rasulullah bersabda,"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.." maka sibukan diri dengan menebar manfaat kepada siapa saja, siapa tahu itu yang mampu menjadi jawaban bila kelak kita ditanyai dan diminta pertanggung jawaban di kemudian hari.
"Fabi-Ayyi Ala-I Rabbikuma Tukazziban.."
Sungguh, begitulah untaian pertanyaan indah, firman Allah kepada jiwa-jiwa pengeluh seperti diri ini.

Penulis : Afan Ramdhani

Sedikit Lebih Dalam: Qur'an Inspirasi Ilmu Pengetahuan


Sudah menjadi suatu tugas bagi manusia, mengevaluasi diri pasca Ramadhan usai. Sejauh manakah iman dan amal kita bertambah, sehingga makna “Syawal” benar-benar teraplikasi secara harfiah dan maknawiyah. Allah SWT telah mengisyaratkan banyak perintah dalam Al-Qur’an agar manusia melakukan evaluasi. Afalaa tatafakkaruun...atau Afalaa ta’qiluun. “Apakah kamu tidak memikirkan?” Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut seringkali disandingkan dengan perintah untuk memperhatikan alam semesta beserta segala fenomena didalamnya.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (clue) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) : 20-21) 

Ada sesuatu yang menarik dari kegiatan tafakkur ini. Sebagaimana kita tahu, seluruh mahluk yang diciptakan-Nya selalu bertasbih dengan cara-cara yang unik. Mereka telah bertauhid dengan cara mereka sendiri. Dengan interaksi kita dengan para mahluk Allah ini, semestinya ada “getaran-getaran dzikir” yang kita rasakan. Layaknya saat kita berinteraksi dengan orang yang sedang berdzikir, sedang mengingat Allah, kita akan rasakan bahwa ia sedang mengingat Tuhanya. Sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati, begitu rumusnya. Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bahkan “menemukan” prinsip ketauhidan dari tafakkur. Terlepas dari keistimewaan hati dan iman beliau, tafakkur ini juga bisa kita lakukan untuk menggapai kesadaran bertauhid. 

Pertanyaanya, tafakkur yang bagaimana ? 

Mencari contoh yang terbaik, tentu contoh yang diberikan Allah SWT. Maka apa yang dilakukan para Nabi dan Rasul, juga orang-orang terdekat mereka adalah referensi terbaik. Hal yang paling menonjol dari diri mereka ketika bertafakkur, tentunya kejernihan hati. Ibrahim kecil dibesarkan di gua terpencil. Ia punya curiousity dan criticism yang tinggi. Namun sifat dan akhlaq mulia tetap terpancar dari perkataanya. Nabi Ibrahim menuntun pemikiran-pemikiranya dengan akal sehat, objektif. 

"Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam"

"Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'" 

"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'"
(QS. al-An'am: 76-79) 

Begitu pula ketika ia menghadapi paganisme kaumnya dengan akal sehat : 

"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu derhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahawa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.'" (QS. Maryam: 42-45) 

Dalam bahasanya Pak Agus Mustofa, penulis buku serial Diskusi Tasawuf Modern, menyebutkan Al-Qur’an sebagai Inspirasi bagi Sains. Beliau menyebutkan bahwa Al-Qur’an memang bukan kitab sains. “Al-Qur’an memang bukan sains dan tidak layak ditandingkan denganya. Ayat-ayat Qur’an berada di ‘hulu” sedangkan sains berada di ‘hilir’”, sebutnya. Namun Allah memberikan banyak clue (petunjuk)–sebagaimana sebutan Al-Qur’an sebagai Huda–mengenai berbagai hal di alam semesta. Banyak inspirasi, maupun filosofi yang dapat digali dari ayat-ayat Qur’an. Ini berlaku untuk semua disiplin ilmu, mulai dari Astronomi, Fisika, Geologi, Kimia, Matematika, bahkan Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Politik, dan sebagainya. Ilmuwan, dalam hal ini menjadi subjek-subjek pengembang sains. Al-Qur’an menstimulasi perkembangan ilmudan membimbingnya agar tetap on the right track. Maka semestinya, pengkajian yang mendalam terhadap suatu ilmu mengantarkan ‘si pengkaji’ menuju hujjah-hujjah ketauhidan yang akan lebih menancap di hatinya. Kuncinya–seperti yang dicontohkan para Nabi dan Rasul–adalah niat hati kita. Kita niatkan untuk beribadah, mencari hikmah, mencari inspirasi ketauhidan. 

Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya (Al-Hadits) 

“Dan apabila diturunkan suatu surat (Al-Qur’an), maka di antara mereka (yang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah keimananya dengan (turunya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah keimananya, dan mereka merasa gembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah keingkaran mereka, disamping keingkaraya (yang telah ada), dan mereka mati dalam keadaan ingkar”(Q.S At-Taubah (9) : 124-125) 

Dalam hal penciptaan bumi misalnya, Allah menyebutkan asap panas yang kemudian mendingin membentuk tata surya, planet-planet, juga benda-benda langit lainya. Bumi termasuk didalamnya. Hal-hal mengenai proses perubahan asap panas dalam tinjauan sains, ternyata dapat dideskripsikan lebih detail dengan metodologi-metodologi saintifik, pengkajian mendalam, penelitian, dan aplikasi teori-teori dari para ilmuwan terdahulu. Dalam titik tersebut, ayat Qur’an tidak hanya dogma, melainkan sudah menjadi keyakinan dengan bukti kauniyah yang nyata. Sebagai referensi yang konkret, tengoklah Prof. Abdus Salam. Bahkan beliau menyitir ayat-ayat Qur’an yang menginspirasinya dalam karyanya, ketika memberikan pidato perolehan Nobel. Selengkapnya dapat dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Abdus_Salam. 

Sebagai penutup tulisan kali ini, kami mengajak rekan-rekan (terutama) mahasiswa untuk sedikit lebih dalam mempelajari ilmu. Sekalipun itu ilmu yang belum pernah menemukan “kecocokan” dengan ayat Qur’an secara empiris, namun kajian yang sedikit lebih dalam akan membuka pintu-pintu hikmah. Tentunya dengan terus meluruskan niat, dipandu ayat Qur’an sebagai sumber filosofisnya. 
Let’s do tafakkur, then tadzakkur. 

Mengapa mahasiswa? 

Karena ianya sangat dekat dengan lingkungan ilmiah. Fasilitasnya lebih mendukung untuk kajian-kajian saintifik. Tugasnyalah melakukan pencerdasan masyarakat dengan kapasitas ilmu yang selalu ditingkatkanya. Hanya saja perlu ada kemauan, untuk mengkaji sedikit lebih dalam… Ya, sedikit saja. Namun ruti.

Keep Inside Iman! 

Penulis   : Tubagus Naufal Dzaki

Rasakan Seakan Masih Ramadhan: Ramadhan Selamanya

Ramadhan telah berlalu dan saat ini kita telah memasuki bulan Syawal. Hanya diri kita sendiri yang mengetahui kualitas amalan-amalan kita selama bulan Ramadhan yang lalu. Berapa banyak Ramadhan yang sudah kita lewati tapi kita merasa semuanya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Yang tertinggal dalam ingatan hanya menahan rasa haus dan lapar. Target ibadah Ramadhan pun mungkin masih banyak yang belum dituntaskan. Tidak ada rasa rindu ingin berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan. Kalau kita mencoba flashback ke belakang, maka kita akan menjumpai kelalaian-kelalaian dalam menyambut bulan Ramadhan. Salafush shalih mengatakan,“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram. Ramadhan adalah saat pohon berbuah. Bila engkau ingin memetik buah di bulan Ramadhan. Kau harus menanamnya di bulan Rajab dan menyirami tanaman itu di bulan Sya’ban.” Para salafush shalih dahulu, enam bulan berturut-turut menjelang Ramadhan, memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan dan selama enam bulan setelah Ramadhan kembali memohon kepada Allah untuk menerima amalan-amalan yang telah dilakukan selama Ramadhan. Mereka merindukan saat-saat berpuasa di waktu siangnya, bermunajat di waktu malamnya dan tilawah di tiap harinya. Rabbana taqabbal minnaa.

Alkisah seorang budak wanita yang dipunyai lelaki shalih dijual kepada sebuah keluarga. Menjelang Ramadhan keluarga baru menyiapkan berbagai macam makanan. Ternyata makanan yang banyak itu untuk menyambut bulan Ramadhan. Saat itu juga, budak wanita yang beriman itu meminta untuk dipulangkan kembali kepada majikannya yang lama. Karena selama bersama dengan majikan lamanya, seakan seluruh tahun adalah Ramadhan. Ia tidak ingin memiliki majikan yang seakan-akan hanya berpuasa di bulan Ramadhan saja.

Ramadhan adalah bulannya ibadah. Bulan yang di dalamnya diperintahkan oleh Rasulullah untuk memperbanyak ibadah ketimbang bulan-bulan lainnya. Merasakan hari ini seakan masih Ramadhan berarti kembali menghidupkan amalan-amalan Ramadhan dengan diiringi kerinduan untuk berjumpa kembali di tahun depan. Kerinduan akan memotivasi kita untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya selama satu tahun ke depan. Berharap mendapatkan malam Lailatul Qadr yang selama ini selalu terlewatkan. Berharap tidak ada lagi penyesalan. Yang ada hanya rasa syukur atas kesempatan yang masih diberikan dan kebahagiaan atas nikmatnya ibadah yang kita rasakan.
Ramadhan adalah momentum reformasi diri. Ada usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan mulai membiasakan diri dengan amalan-amalan yang baik. Kita mulai dengan melaksanakan puasa Syawal agar mendapatkan ganjaran selama puasa satu tahun penuh.
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Ramadhan juga bulan kemenangan dan pertolongan. Ada banyak peristiwa heroik yang terjadi selama bulan Ramadhan. Menjadi penyemangat kita dalam memperjuangkan kebaikan di jalan kebenaran. Sebut saja perang Badar, Fathul Mekkah, penguasaan kota ‘Asqalan oleh Shalahuddin Al Ayyubi, dan yang saat ini sama-sama kita saksikan; kemenangan-kemenangan kecil yang terjadi di Palestina atas penjajahan Israel. Israel tidak akan menang melawan Palestina! Karena para mujahid Palestina adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. (QS.3:146-148)

            Dengan menghidupkan Ramadhan di setiap harinya dan mengenang kehadirannya serta menghadirkan kerinduannya, maka rasakan Ramadhan selamanya.

Kami dan Perjuangan Kam(m)i

Kami terheran-heran dengan mereka yang terangguk-angguk seakan paham
Dengan mereka yang pergi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak esensi
Ada juga yang meleburkan diri hingga tanpa sadar semuanya karena kesenangan pribadi
Tak tahu lagi sebenarnya apa yang sedang dicari. Untuk apa semua ini?

Kami memilih menjadi mereka yang meleburkan diri secara sadar dan akan terus sadar
Melewati semua ujian, menang dengan segala usaha yang dihalalkan
Senantiasa  hanya berharap bonus pahala dan janji-janji surga
Niat mungkin akan berbelok di tengah perjalanan
Saat itu, kami berharap Tuhan akan membimbing kami hingga kembali pada niatan awal
Mungkin saat itu juga sahabat-sahabat kami telah gugur satu-satu
Kembali kami akan berharap kepada Tuhan, bimbing sahabat-sahabat kami sebagaimana Kau bimbing kami

Seringkali kami bertanya,
Kenapa ada yang tidak kritis menangkap maksud baik?
Menelan mentah-mentah apa kata orang
Seperti ampas yang lolos dari saringan
Kenapa juga ada yang tak kunjung beranjak dari rasa nyaman yang mematikan?
Ingin hidup namun enggan bernafas
Ingin menghirup udara segar tapi memilih tetap bertahan di tempat yang menyesakkan
Kalau kami dihadirkan untuk menciptakan perubahan,
Kenapa mereka tak kunjung paham?
Atau kami dihadirkan hanya untuk sekedar menambah semaraknya warna
Sehingga semuanya hanya akan menguap di udara,
Tidak akan mengubah apa-apa
Tidak! Bukan untuk itu Kau hadirkan kami kan?

Ini semua benar-benar melelahkan
Bukan lelah fisik yang membuat sakit badan
Tapi lelah jiwa yang membuat semuanya terasa sia-sia
Kesadaranku timbul tenggelam, namun aku masih bisa mendengar seruan, “Bertahanlah, kawan! Kau akan menang!”
Dalam ketidaktahuanku, aku kembali bertanya,

Semua ini akan Kau balas kan?

ISRAEL, MENYERAHLAH!

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hambaNya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya...”

            Allah telah mengabadikan kisah Isra’ dan Mi’rajnya nabi Muhammad dalam alqur’an. Pada waktu itu, Rasulullah menjadi imam shalat bagi para nabi dan rasul di masjid Al Aqsha. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam adalah kalimat Allah terakhir bagi manusia sekaligus menjadi tanda bahwa shibgah (warna) terakhir bagi Al Aqsha di dalam syariat Allah adalah shibgah Islam hingga hari kiamat. Selain itu, Palestina adalah tanah waqaf umat Islam yang mana di sana terdapat Al Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Oleh karena itu, kami tegaskan, Al Aqsha adalah milik kami, umat Islam!
        Hukum Internasional menyatakan bahwa yang berdaulat atas suatu wilayah adalah mereka yang pertama kali mendiami wilayah tersebut dan menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut berupa aktivitas dan bukti-bukti fisik. Kalian tidak memiliki akar sejarah sebagai penduduk asli Palestina. Kedatangan kalian dari permulaan akhir periode sebelum lahirnya Isa bin Maryam sampai permulaan Masehi hanyalah sebagai imigran dari Mesir. Jauh sebelum masuknya kalian, Palestina telah dihuni oleh bangsa Kanaan. Hal ini disebutkan dalam injil dan alqur’an. Karena itu, bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang Arab Palestina saat ini adalah pemilik sah Palestina. Israel hanyalah maling yang mengaku-aku!
      Masih ingat saat deklarasi kalian di Jerman diboikot dan diprotes para rabi. Kalian kemudian mencari tempat lain, di Swiss. Jerman paham, Israel berdiri di atas ideologi yang rasis, politis dan teroris. Kalian mengusir penduduk asli, melakukan teror dan pembantaian tanpa pandang bulu terhadap ibu-ibu, orang tua dan anak-anak. Praktik bumi hangus Deir Yasin menjadi saksi 400 masjid dan 400 gereja ternodai. Sebelumnya pun, gerakan Zionis Israel dinyatakan terlarang oleh PBB. Namun, lobi-lobi kalian kemudian berhasil menghapuskannya. Sebagaimana Jerman dan PBB yang tidak mengakui Israel, kami dan segenap rakyat Palestina pun tidak mengakui adanya Israel di muka bumi ini!
        Kami masih ingat, ketika dulu di bulan Ramadhan, tentara Mesir berhasil menembus terusan Suez dan menghancurkan benteng Berlif serta menghancurkan kekuatan tentara Israel. Begitupula tentara Suriah yang mampu membebaskan beberapa wilayahnya dari tangan Israel. Ternyata sudah sejak dulu kalian suka menjajah!
      Israel, menyerahlah! Kalian tidak akan menang melawan Palestina. Kalian datang ke Palestina untuk hidup, tapi rakyat Palestina akan tetap mempertahankan Palestina walau harus mati. Ketika sampai puncaknya nanti, kami, umat Islam yang akan membebaskannya sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi dulu menghancurkan dan menguasai kota ‘Asqalan yang merupakan pintu masuk menuju kota Al Quds dari tentara Salib yang mencoba menguasainya.

Seharusnya Kita Marah

Sejarah kebangkitan Indonesia dari masa otoritarian sejak 1998 silam terhitung 16 tahun lamanya hingga saat ini. Selama 16 tahun ini pula, pergerakan mahasiswa mulai bergeliat menyuarakan suaranya, memproklamirkan diri sebagai oposisi pemerintah. Alumni-alumninya mulai banyak yang berkarir menjadi politisi dan anggota dewan. Tapi kenyataannya, adakah perubahan itu yang dulunya dihiasi dengan semangat Reformasi? Mungkin belum! Lantas kapan? Rijalul Imam, dkk, telah meramalkan di tahun 2014 ini KAMMI mulai memasuki mihwar dauli. Hal itu tentu saja harus diimbangi dengan pengokohan visi KAMMI, membentuk kader-kader yang siap terjun di kancah perpolitikan Indonesia. Perjuangan selama 16 tahun ini ternyata masih belum cukup untuk mengisi stok kader guna siap didistribusikan di pemerintahan, mentok masih sebatas anggota DPR alias masih stag di ishlahul hukumah. Calon presiden Indonesia masih digawangi oleh bapak-bapak kita yang notabene berumur 60 tahun-an. Mungkin 10 tahun lagi. Ya! Bisa jadi 10 tahun lagi dengan rerata usia alumni kader KAMMI sekitar 40 tahun-an.
Menunggu masa 10 tahun itu banyak agenda yang harus sudah mulai dirancang jika benar-benar serius ingin mencapai mihwar dauli. Agar umat Islam tidak kembali dipencundangi seperti selama beberapa dekade ini. Saban pemilu agama dijual oleh kandidat capres demi penerimaan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Tapi setelah itu, apa yang didapat oleh umat Islam? Kekecewaan demi kekecewaan yang senantiasa kita rasakan. Ketidakadilan yang mendiskreditkan Islam yang selalu kita dapatkan. Umat Islam tidak butuh embel-embel Islam kalau pada akhirnya tidak berimplikasi pada kebijakan politiknya. Hal itu semakin diperparah dengan partai Islam yang tidak kunjung dewasa belajar dari sejarah masa lalu. Partai Islam sudah terlanjur nyaman berjuang secara sporadis untuk mencapai, entah apa yang sebenarnya hendak dicapai.
Ada yang mengutuk demokrasi sebagai lingkaran setan yang berakibat pada terhambatnya perubahan dan perbaikan. Lantas apa yang hendak ditawarkan sebagai solusi alternatifnya? Mengganti demokrasi dengan sistem lain? Sejarah peradaban  Islam membuktikan bahwa kepemimpinan umat tidak cukup hanya dengan penaklukan tanpa ada pembelajaran bagaimana mengelola sistem pemerintahan yang ada. Pembelajaran yang bukan sekedar teori tapi juga praktek.
Masih ingat dulu umat Islam punya kekhilafahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah? Perlu diketahui, Bani Umayyah dibangun di atas tata kenegaraan persis Romawi dan Bani Abbasiyah dibangun di atas tata kenegaraan persis Persia. Apa itu pantas disebut Khilafah? Bahkan parahnya, Perdana menteri Umayyah di Andalusia selalu Yahudi atau Nasrani, belum pernah sekalipun Muslim bahkan sejak masa keemasaannya ketika dipimpin oleh Abdurrahman III. Tidak jauh berbeda dengan Umayyah, Perdana Menteri Abbasiyah rata-rata dari kalangan Majusi yang terdepan. Apa sebab? Karena yang dirasa paling berkompeten adalah mereka-mereka yang sayangnya secara akidah bermasalah. Saat itu tidak ada penyiapan Sumber Daya Manusia yang memadai untuk mengisi pos-pos penting itu, utamanya dari kalangan Muslim. Dari fakta sejarah ini, kita bisa melihat bahwa pada saat itu Islam sedang mengalami krisis kepemimpinan selain miskin pengalaman dalam sistem pemerintahan kontemporer. Tidak siap mengelola apa yang sudah didapatkan.
Sudah seharusnya kita marah dengan keadaan yang yang tidak kunjung membaik bahkan terkesan set back. Namun, kemarahan kita bukanlah kemarahan yang memperturutkan nafsu hingga melahirkan arogansi dan menghilangkan akal sehat. Kemarahan kita adalah semangat dan keinginan untuk memperbaiki segala sesuatunya yang masih bisa diperbaiki dengan potensi yang kita miliki. Mempersiapkan masa 10 tahun guna membangun basis kultural dan struktural, pengoptimalan multistakeholder partnership dan mencapai puncak kepemimpinan Indonesia dengan pemimpin yang imani dan mumpuni. Kemenangan adalah kepastian. Kita hanya mengikhtiarkan sebab.


Siapapun pemimpinnya saat ini, 10 tahun ke depan adalah KAMMI! 

(ditulis sebagai refleksi Pemilu saat ini)

SKSD "Si KAMMI Suka Dakwah"


Penyerahan Wakaf Quran oleh Ketua Komisariat ke Perwakilan Warga

Semarang, Pershum KAMMI FT - Selasa (15/7) Tawa riang anak-anak kecil sahut menyahut di tengah suasana Desa Rowosari pada sore itu. Kala itu, komisariat KAMMI Teknik melakukan silaturahmi ke desa Rowosari dalam rangka melaksanakan programnya yaitu SKSD (Si Kammi Suka Dakwah) untuk berbagi kebahagiaan Ramadhan. Dalam acara tersebut KAMMI Teknik melaksanakan buka bersama sekaligus menyalurkan wakaf Al-Qur’an ke Desa Rowosari. Acara dihadiri oleh Kakom (Ketua Komisariat) KAMMI Teknik Fahmi Akmal Hasani beserta rekan-rekan pengurus. Warga Rowosari yang hadir saat itu didominasi oleh anak-anak berusia sekolah, ibu-ibu dan para tetua desa. Acara dimulai dari jam 16.30 setelah panitia berjibaku dengan jalan menuju desa yang berliku lagi tidak mulus. Secara administratif, Desa Rowosari merupakan daerah yang masih dalam wilayah Kota Semarang. Namun desa tersebut masih tertinggal dalam ekonomi maupun pembangunan. Kebun-kebun di desa itu masih banyak ditemani oleh rumah-rumah dari kayu dan bilik. Begitupun jalan-jalan desa yang belum disentuh aspal atau pun beton. Sebelum dimulai, salah satu pemuda desa yang merupakan hafizh 15 juz membacakan tilawah sembari menunggu warga berdatangan. Ketua komisariat KAMMI Teknik membuka acara dengan sambutan sekaligus penyerahan wakaf Al-Qur’an secara simbolik kepada perwakilan warga desa. Ada sekitar 100 mushaf Al-Qur’an terjemah yang diwakafkan oleh mahasiswa-mahasiswa Undip lewat program KAMMI Teknik “100 Quran Untuk Tembalang”. Di antara 100 Qur’an tersebut sekitar 53 di antaranya diwakafkan untuk mushola-mushola di Desa Rowosari karena dianggap lebih membutuhkan, sedangkan sisanya untuk masjid-masjid di Tembalang.. Acara dilanjutkan dengan tausyiah dari Ustadz Luthfi. Beliau menyampaikan tentang bagaimana memanfaatkan hari-hari yang tersisa di bulan Ramadhan dengan ibadah maksimal, bukan dengan jalan-jalan ke tempat belanja atau hal yang kurang bermanaat lainnya. Sebagai penutup, perwakilan dari sesepuh desa melantunkan do’a untuk keberkahan acara yang dilaksanakan sore itu. 

Penulis : Naufal Dzaki

Ada Landmark Baru di Kampus Undip

Semarang, Pershum KAMMI FT - Jumat (5/6) Ada pemandangan baru yang dapat kita lihat saat melintas di sekitar kawasan Widya Puraya. Pemandangan baru ini tak lain adalah Patung Pangeran Diponegoro, icon dari kampus kita tercinta. Patung Pangeran Dioponegoro yang tegak berdiri di pusat Kampus Undip ini merupakan landmark baru yang dibangun oleh pihak universitas. Patung Diponegoro yang awalnya hanya berada di gerbang masuk kawasan Universitas Diponegoro, kini dapat dinikmati keindahannya juga di kawasan kampus.

Kepala Bagian Tata Usaha LP2MP Universitas Diponegoro, Bapak Ngadenan, mengatakan tujuan dibangunnya Patung Diponegoro di dalam kawasan kampus ini adalah selain dikarenakan selama ini Universitas Diponegoro belum mempunyai identitas yang menjadi penanda Kampus Undip, tetapi juga dikarenakan tidak adanya icon di dalam kampus. Beliau juga mengatakan, dengan dibangunnya Patung Pangeran Diponegoro di dalam kampus ini juga dapat digunakan sebagai salah satu tujuan dan objek foto, yang sebelumnya tidak ada di kampus ini.

Filosofi yang dapat diambil dari Patung Pangeran Diponegoro yang sedang menaiki kuda ini adalah bahwa patung ini menggambarkan kejujuran dan keberanian yang menjadi karakter utama Pangeran Diponegoro, sedangkan filosofi dari menaiki kuda sendiri yaitu mencerminkan kegiatan gerilya Pangeran Diponegoro yang selalu menunggangi kuda. Desain Patung pangeran Diponegoro sendiri diadaptasi dari lukisan Basuki Abdullah yang kemudian dimodifikasi oleh salah satu profesor dari jurusan Teknik Arsitektur, Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng.

Pembangunan patung yang sudah berjalan sejak bulan April 2014 ini ditargetkan akan selesai pada tanggal 6 Juni 2014 besok. Peresmian Patung Pangeran Diponegoro yang menjadi landmark baru bagi Kampus Diponegoro ini direncanakan juga akan dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2014 besok bebarengan dengan agenda car free day yang rutin dilakukan pada Hari Jumat tiap minggunya.

Penulis   : Nisa Farida Amanatullah
Editor     : Muhammad Iqna Syarhuddin

HMI Komisariat Fakultas Teknik 2014-2015 Resmi dilantik

Pelantikan Pengurus HMI Komisariat FT 2014 -2015
Semarang, Pershum KAMMI FT - Rabu (14/5) Kepengurusan HMI Komisariat Fakultas Teknik periode 2014-2015 resmi dilantik. Pelantikan yang diadakan di Aula Kelurahan Sumurboto itu berlangsung mulai pukul 15.30 sampai dengan 17.30 WIB. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Pengurus Komisariat KAMMI Teknik, Fahmi Akmal Hasani. Menurutnya silaturahmi seperti ini perlu dilakukan antara gerakan-gerakan mahasiswa di Undip. Walaupun berbeda organisasi, pada dasarnya terdapat tujuan-tujuan yang sama dari KAMMI maupun HMI dan hal tersebut dapat diwujudkan dengan kerjasama antar keduanya. Sedangkan menurut Rohim, salah satu anggota HMI Komisariat FT, ke depan perlu dilakukan silaturahmi antar gerakan-gerakan mahasiswa yang lebih luas lagi. Jadi, bukan hanya HMI dengan KAMMI saja melainkan juga organisasi gerakan mahasiswa yang lain seperti PMII, GMNI dan lain sebagainya. Pada kesempatan yang sama ketua HMI Komisariat FT terpilih, Nurkhasanah Rina Puspita, menyatakan apresiasinya kepada PK KAMMI FT yang telah menyempatkan untuk hadir di acara pelantikan ini.

Penulis  : Muhammad Iqna Syarhuddin
Editor    : Nisa Farida Amanatullah
 

Ruang Terbuka Hijau Semarang Baru Terpenuhi 7,5 Persen

Taman KB Semarang

Terik matahari sore itu turut membakar semangat anggota Forum Banyu Putih untuk mengikuti sebuah diskusi publik. Diskusi publik yang diadakan di Taman KB pada hari Jumat, 9 Mei 2014 sore itu merupakan agenda Departemen SosMas KAMMI Daerah Semarang. Tema yang diangkat pada diskusi publik tersebut adalah Taman Kota Taman Kita, dimana terdapat 2 pembicara yang masing-masing berasal dari Dinas Pertamanan, yaitu Bapak Budi Prakosa dan Bapak Agung Budi Margono dari DPRD Kota Semarang. Pada diskusi publik tersebut, Bapak Budi Prakosa menjadi pembicara pertama yang menceritakan dan menjelaskan tentang taman kota yang ada di Kota Semarang. Beliau menjelaskan bahwa setiap Ruang Terbuka Hijau, yang dalam kasus ini adalah taman kota, harus dapat memenuhi 4 fungsi, yaitu: 

Fungsi Ekologis, dimana setiap RTH harus mampu membuat penggunanya merasa sejuk ketika berada di taman kota, apabila pengunjung masih merasa kepanasan meskipun telah berada di taman, itu berarti taman tersebut belum memenuhi fungsi ekologis.
Fungsi Sosiologis, dimana setiap taman dapat dijadikan sebagai sarana berkumpul dan sosialisasi masyarakat. 
Fungsi Estetis, dimana sebuah taman harus indah dan mampu memperlihatkan keindahannya. 
Fungsi Ekonomis, dimana sebuah taman harus mampu menghasilkan nilai ekonomis, bukan berarti sebuah taman dijadikan tempat berjualan, melainkan pohon-pohon yang ditanam di taman kota mampu menghasilkan buah dan lain sebagainya. 

Bapak Budi Prakosa juga menceritakan bahwa Ruang Terbuka Hijau yang ada di Kota Semarang baru terpenuhi sekitar 7,5% RTH Publik dari 20% yang seharusnya tersedia. Ini berarti terdapat satu pekerjaan besar bagi Pemerintah Kota Semarang untuk dapat memenuhi ketersediaan RTH Publik. Diceritakan juga bahwa saat ini Pemerintah Kota Semarang memang sedang dalam prosesnya untuk memenuhi ketersediaan RTH Publik tersebut. 

Bapak Agung Budi Margono sebagai pembicara kedua, dalam diskusi ini beliau menceritakan tentang kota-kota di Indonesia yang telah berhasil dalam penyediaan taman-taman kota. Kota Bandung misalnya yang telah berhasil membuat berbagai taman dengan berbagai tema, misalnya Taman Jomblo, Taman Pustaka Bunga, Taman Fotografi dan Taman Vanda, juga Kota Surabaya yang berhasil membangun taman kota terbaik se-Asia yaitu Taman Bungkul. Diskusi publik yang bertema Taman Kota Taman Kita ini terpaksa harus bubar dikarenakan hujan deras yang mengguyur Kota Semarang. Ke depannya diharapkan forum-forum seperti ini tetap ada di Kota Semarang dan semoga Kota Semarang mampu menyediakan taman-taman kota sesuai keinginan masyarakatnya. 

Penulis : Nisa Farida Amanatullah
Editor   : Muhammad Iqna Syarhuddin

Aksi Nyentrik KAMMI Teknik di Jambore Ukhuwah


KAMMI Daerah (Kammda) Semarang telah sukses melaksanakan agenda dua tahun sekali, Jambore Ukhuwah KAMMI pada Jum’at (25/4) sampai Ahad (27/4) kemarin. Acara perkemahan diikuti oleh 16 KAMMI Komisariat di Semarang dan sekitarnya, mulai dari Komisariat tiap fakultas di Undip, Unnes, IAIN Walisongo, IKIP PGRI, Polines, sampai Komisariat Salatiga dan Demak juga ikut meramaikan. Seluruh peserta harus merasakan nuansa dingin Bumi Perkemahan Senjoyo, Salatiga sebagai tempat berlangsungnya agenda tersebut.
Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, KAMMI Teknik menjadi juara bertahan sebanyak 3 kali, dengan diselingi oleh KAMMI Unnes sebagai juara umum pada 2010. Maka dari itu, KAMMI Teknik 2014 ingin mempertahankan gelar dengan meningkatkan semangat dan kapasitas tim. Teriakan yel-yel dari masing-masing tim tak pelak menjadi pemeriah suasana jambore pada setiap acara perlombaan. KAMMI Teknik pun membawa atribut-atribut tambahan, guna menyemarakkan acara sekaligus mempertahankan eksistensi sebagai juara bertahan.
Layaknya sebuah jambore, acara tersebut berisikan berbagai lomba-lomba khas perkemahan seperti Lomba Masak, ditambah dengan lomba-lomba bernuansa Islam dan ke-KAMMI-an. Jambore Ukhuwah menjadi ajang fastabiqul khairat, bentuk persaingan sehat antar komisariat se-Semarang. Adapun lomba-lomba yang diadakan pada Jambore Ukhuwah 2014 adalah Lomba Cerdas Cermat, Lomba Orasi, Lomba Masak, Lomba, Tarik Tambang, Haflah (Pentas Seni) dan Outbond.
Dalam Lomba Cerdas Cermat, Orasi, Masak dan Tarik Tambang seluruh tim memperebutkan poin juara. Semakin banyak memenangi lomba dan semakin tinggi peringkatnya, tim tersebut semakin berpeluang menjadi juara umum. Cerdas Cermat ala KAMMI tidak memerlukan bel ataupun lampu. Bermodalkan wawasan umum, tsaqofah Islamiyah dan ke-KAMMI-an, juga semangat kompetisi, para peserta akhirnya mengeluarkan kemampuan maksimalnya dalam menjawab dan berebut pertanyaan. Mulai dari pertanyaan sederhana sampai yang aneh sekalipun, Begitu pula ketika lomba orasi. Baik delegasi ikhwan maupun akhwat, setiap komisariat tidak tanggung-tanggung dalam menyampaikan orasi. Layaknya orator yang sedang turun ke jalan, atau komandan perang yang mengobarkan semangat juang para pasukan. Teriakan “Allahuakbar” terus berkumandang setiap kali peserta tampil. Walaupun beberapa masih belum memberikan gereget, namun lomba orasi menjadi wadah tersendiri bagi kader KAMMI untuk saling belajar.
Pada penghujung hari, tepatnya setelah isya, pentas seni ala KAMMI berlangsung. Agenda haflah kali ini tidak menjadi bagian dari penilaian. Pasalnya, tidak semua tim berkesempatan untuk tampil. Komisariat yang beruntung menampilkan kreasinya adalah : MIPA (paduan suara + puisi bersambung); Unnes (drama teatrikal); Teknik (drama parodi); dan beberapa komisariat lainya. Setiap penampilan mempunyai ciri khas masing-masing. Namun semua penampil mempunyai pesan-pesan khusus yang ingin dibawakanya. Inilah Haflah, sebuah pentas seni sarat makna.
Agenda pamungkas dari jambore ukhuwah ini tidak lagi “pertarungan” antar komisariat. Semua peserta membentuk tim baru secara acak yang terdiri dari 8-10 orang. Setiap tim membuat nama dan yel-yel baru. Ada 5 pos yang harus dilewati setiap tim. Pada tiap posnya, tersimpan makna dan pesan khusus di balik permainan yang dilakukan. Terlepas dari berbagai jenis permainan yang ada, satu hal yang pasti tak ketinggalan dari kegiatan outbond adalah… Nyebur.

Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ditutup pada hari ke-3. Tepatnya hari Ahad, 27 April 2014 pada waktu Zhuhur. Kegiatan tersebut berakhir dengan guyuran hujan di Kota Salatiga. Dengan adanya Jambore Ukhuwah ini, diharapakan seluruh unsur kader KAMMI, khususnya di bawah naungan Kamda Semarang, semakin kuat jalinan internalnya. Sehingga saat terjun ke masyarakat, tidak perlu lagi mengkhawatirkan solidaritas internal. Saat beraksi dalam dakwah, tak perlu lagi mempertanyakan kendala apa yang berada ‘di dalam’. Bahkan mungkin, hujan yang turun ketika penutupan acara, mengisyaratkan kesedihan. Kesedihan akan usainya pemandangan nyata ukhuwah Islamiyah para pemuda-pemudi dakwah. 

Penulis: Naufal Dzaki 
Editor: M Iqna Syarhuddin

Tradisi Menyambut UTS Ala Kaderisasi KAMMI Teknik



Bicara soal UTS (Ujian Tengah Semester), saat ini merupakan hari-hari dimana Mahasiswa Undip (Universitas Diponegoro) khususnya Fakultas Teknik akan menjalaninya. Dalam menyambut hal itu, Departemen Kaderisasi dari Pengurus Komisariat KAMMI Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (PK KAMMI FT Undip) tiap tahun selalu mengadakan “tradisi” berbagi penyemangat kepada para kader KAMMI Teknik Undip. Sore ini (20/4), ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Teknik Undip Sadida Ulfa, bersama dengan stafnya, Siti Mahmudah telanh menyiapkan “tradisi” yang biasa dilaksanakan menjelang UTS atau UAS. Mereka dibantu oleh beberapa akhwat dari departemen lain berkreasi dengan biskuit coklat yang diikatkan oleh pita berwarna-warni dan secarik kertas bertuliskan penyemangat untuk para kader menjelang UTS. 

Pesan spesial untuk pengurus KAMMI Teknik Undip menjelang UTS

”Bismillah . . . UTS sudah di depan mata ini? 
Gimana persiapannya, kawan? 
Harus siap dong pasti :) 
Salah satu budaya ujian-ujian lingkungan kita adalah mencontek? 
Hayoo :D Para pengemban dakwah jangan Nyontek nih :D hehe 
Allah dalam QS Al-Baqarah 2:9 berfirman : 
Artinya : Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, 
padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. 

Cara berhenti mencontek :) 
 1. Menyadari bahwa hidup bermartabat, terhormat dan membahagiakan adalah penuh kejujuran. 
2. Menyadari hasil dari mencontek adalah kepalsuan. 
3. Menyadari kebahagiaan sejati saat kerja keras dan memetik hasil. 
4. Berteman dengan orang-orang jujur. 
#KaderisasiKAMMIFT14 #berdetaktanpahenti.”
Tulisan di atas adalah pesan yang ada disecarik kertas yang diberikan oleh Departemen Kaderisasi. Harapannya dengan adanya “tradisi” tersebut para kader lebih bersemangat untuk mengerjakan soal-soal UTS yang akan dijalani esok hari. Tidak hanya kertas penyemangat, tapi ada biskuit coklat dan berwana-warni pita tersemat menyatu. Biskuit coklat bertujuan untuk meningkatkan mood para kader jika jenuh belajar terlalu lama, sedangkan pita-pita yang berwarna-warni sendiri berartikan keceriaan bersama dalam ukhuwah untuk menghadapi ujian nanti. Harapannya dengan adanya “tradisi” tersebut para kader dapat belajar lebih giat dan dimudahkan dalam mengerjakan soal-soal UTS. 

Penulis : Eva Zulvah
Editor   : Muhammad Iqna Syarhuddin

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money