Mengapa Aku Mencintai KAMMI

Judul Buku:
Mengapa Aku Mencintai KAMMI

Penulis:
Imran Rosyadi, Evie Fitria, Aji Kurnia Dermawan (Izzatul Ikhwan)

Penyusun:
Eko Susanto

Penerbit:
Penerbit Muda Cendikia, Bandung

Cetakan:
Maret 2010

Sinopsis:

Bergabung di KAMMI bukanlah pilihan rasional, lebih kental sisi emosional. Ada banyak cita-cita tinggi yang hendak diwujudkan dan dipersembahkan kepada KAMMI. Maka cinta dan cita-cita tinggi itulah yang membangun semangat ‘bergerak’.

Cintalah yang membuat akh Imron menulis serial “Mengapa Aku Mencintai KAMMI”, yang kemudian dijadikan sebagai judul buku ini. Cintalah yang membatalkan rencana akh Yuli terbang ke London. Dan masih banyak ‘kisah cinta’ lainnya. Saya percaya, banyak yang mencintai KAMMI di KAMMI.

Tak perlu kader KAMMI diajarkan tentang cinta. Tapi rasanya pantas cinta kepada KAMMI digelorakan. Cinta bukan sebuah ajaran ataupun ilmu yang bisa dibuat konsepnya oleh kaderisasi. Cinta terhadap KAMMI merupakan ungkapan perasaan. Perlu teladan dari senior.

Dan pengorbanan bukanlah ‘ritual’ kewajiban sebagai anggota organisasi. Pengorbanan di KAMMI haruslah menjadi ‘ritual’ cinta. Layaknya cinta seorang gadis yang melepas kekasihnya pergi mencari ilmu di negeri jiran. Cinta yang ‘hidup’ dan menghidupi sebuah gerakan untuk berkorban tanpa penyesalan dan keterpaksaan. Bukan kata-kata cinta yang lahir dari kewajiban ataupun sekedar ‘amanah’.


Ini Peperangan Kawan, bukan Hanya Serangan Satu Arah


Resume Madrasah KAMMI 1 (MK1)
Materi : Al-Ghazwul Al-Fikr (Perang Pemikiran)


 Assalamu’alaikum W. W.
Ba’da tahmid wa shalawat

            “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (QS. Ash Shaff : 8)

            Al-Ghazwul Al-Fikr, hampir dipastikan tidak ada aktivis da’wah yang tidak mengerti maknanya. Atau bahkan barangkali sudah ada yang mendapatkan materinya lebih dari 10 kali? Wow. Akan tetapi yang perlu kita pahami bahwa materi ini merupakan materi yang dinamis, akan selalu update sesuai perkembangan zaman dan waktu. Berarti materi ini harus kita kaji terus, kalau tidak kita akan kerepotan/keteteran dalam peperangan ini. Ghazwun secara bahasa artinya serangan, serbuan, dan invasi sedangkan Fikr adalah pemikiran, jadi secara harfiah  Al-Ghazwul Al-Fikr dapat diartikan sebagai Perang Pemikiran.

            “Salah satu faktor kemunduran ummat islam adalah banyak dari mereka yang belum mempunyai Sense of War, tidak menyadari di sekitar bahkan di tengah mereka terdapat peperangan, terdapat konspirasi”. Lebih kurang seperti itu pernyataan Ust. Anis Matta dalam ceramahnya yang pernah saya dengar. Mungkin barangkali karena sifatnya tidak kasat mata, serangannya tidak terlihat dan bahkan seringkali tidak terasa. Karena ia tidak menyakiti tubuh, karena tidak ada desingan peluru, akan tetapi kerusakannya lebih dahsyat dari perang konvensional, karena ia justru merusak cara berpikir kita dan memanjakan hawa nafsu kita. Lalu kemudian rusaklah akhlak kita, hancurlah fikrah kita, berpindahlah loyalitas/wala’ kita kepada orang kafir, tumbanglah ‘aqidah kita, dan sampai – sampai ada yang murtad karena peperangan ini. Oleh karena itu tumbuhkan Sense of War itu dalam diri kita, tularkan kepada orang – orang yang kita cintai di sekitar kita.

            Ketika musuh-musuh Islam menyadari bahwa mereka kalah telak kalau melawan ummat Islam dengan perang fisik maka mereka melancarkan perang pemikiran ini. Mereka tidak pernah ridha dan tidak pernah berhenti menyerang ummat Islam hingga kita mengikuti millah mereka. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.“ (QS. Al Baqarah : 120)

            Saat ini ummat Islam dikepung dari segala penjuru arah dari mulai golongan/organisasi yang merusak dari luar (Zionis, Freemasonry, Illuminati, dll) sampai dari dalam (Jaringan Islam Liberal, syi’ah, ahmadiyah, aliran-aliran sesat, dll). Saya akan lebih fokus membahas sedikit tentang JIL (sebut saja Jaringan Iblis Laknatullah), saat ini sudah banyak tokoh-tokohnya, yang secara sengaja dimunculkan di publik, sebutlah Ulil Absar Abdalla (Politisi, aktifis NU), Luthfi Assyaukanie, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta), Said Agil Siraj (PBNU), Siti Musdah Mulia (Guru Besar UIN Jakarta – mungkin para Akhwat gregetan denger nama ini), Zuhairi Misrawi (pengamat yang biasa muncul di TV), dan masih banyak lagi yang perlu kita waspadai tulisan-tulisannya. Kalau mau lebih tahu tentang kesesatan JIL saya sarankan baca buku “Islam Liberal 101” atau “50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme”.

            Salah satu kenyelenehan mereka adalah mereka menganggap bahwa semua permasalahan bisa dilakukan dengan jalan Ijtihad. Bahkan dalam hal ibadah pun bisa melalui jalan Ijtihad, tidak perlu mengikuti Al Qur’an dan Hadits, suka menafsirkan ayat secara sembrono. Tokoh – tokoh mereka bukan orang dengan pendidikan rendah, mereka banyak yang bergelar Doktor, kuliah di luar negeri dan tinggi-tinggi malah membuat mereka seperti itu. Na’udzubillah. Ghazwul Fikr ini dilancarkan oleh mereka untuk mengaburkan nilai – nilai kebenaran, baik dengan menebarkan keragu – raguan maupun dengan menebarkan kesesatan, dan pada akhirnya tujuan akhir adalah melenyapkan Islam sampai ke akar – akarnya.

Metode mereka dalam Ghazwul Fikr

  1. Tasykik
            Yakni gerakan yang berupaya menciptakan keraguan dan pendangkalan akidah kaum Muslimin terhadap agamanya. Misalnya, dengan terus-menerus menyerang (melecehkan) Al-Qur'an dan Hadits, melecehkan Nabi Muhammad SAW atau mengampanyekan bahwa hukum Islam tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

  1. Tasywih
            Yakni gerakan yang berupaya menghilangkan kebanggaaan kaum Muslimin terhadap agamanya. Caranya, memberikan gambaran Islam secara buruk sehingga timbul rasa rendah diri di kalangan ummat Islam. Di sini, mereka melakukan pencitraan negatif tentang agama dan ummat Islam lewat media massa dan lain-lain, sehingga Islam terkesan menyeramkan, kejam, sadis, radikal dan lain sebagainya.

  1. Tadzwib
            Yakni pelarutan budaya dan pemikiran. Di sini, kaum kuffar dan munafiqin melakukan pencampuradukkan antara hak dan batil, antara ajaran Islam dan non-Islam. Sehingga ummat Islam yang awam kebingungan mendapatkan pedoman hidupnya.

  1. Taghrib
            Yakni “pembaratan” dunia Islam, mendorong ummat Islam agar menerima pemikiran dan budaya Barat, seperti sekularisme, pluralisme, nasionalisme dan lain sebagainya.

Tujuan mereka melancarkan Ghazwul Fikr

            “Tujuan kami bukan untuk mengkristenkan ummat Islam, ini tidak akan sanggup kita melaksanakannya. Tetapi target kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari agamanya (Islam). Ini yang harus kita capai, walaupun mereka tidak bergabung dengan kita..” (Misionaris Amerika, Samuel Marinus Zwemer)

  1. Ifsaad al-Akhlaq (merusak Akhlak)
            Ghazwul Fikr berusaha merusak sendi – sendi Islam dan tidak memberi kesempatan untuk memulai kehidupan secara Islami. Dengan kata lain ummat Islam tidak boleh membangun masyarakat berdasarkan nilai – nilai Islam. Media yang mereka gunakan beragam dari Internet, Film, Sinetron, Iklan, Fashion, Life Style, dll. Serangan ini lambat laun akan merusak akhlak, mengacaukan ideologi bahkan sampai murtad. Setelah itu ummat Islam akan melepaskan ketauhidan kepada Allah dan berwala’ (loyal) kepada kaum kafir.

  1. Tahthiim al-Fikrah (menghancurkan Fikrah)
            Mereka takut ketika kita menjadikan Islam sebagai Dien (dalam arti sebenarnya, bukan hanya agama), sebagai sistem hidup kita. Oleh karena itu disebarkanlah teori – teori sekularisme, pluralisme, paham – paham atheis, dan pemikiran lain yang bertentangan dengan Islam. Mengaburkan nilai – nilai kebenaran, menebarkan keragu – raguan dalam ber-Islam maupun dengan menebarkan kesesatan. Tujuan mereka supaya ummat Islam meragukan kebenaran agama Islam itu sendiri. Padahal Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Ali Imran : 19)

  1. Idzabah asy-Syakhshiyah (melarutkan kepribadian)
            Akibat dari Al-Ghazwul Al-Fikr kemudian lahirlah generasi Muslim yang tidak berkepribadian. Mereka tidak percaya diri untuk menampakkan identitas keislaman. Nama - nama, mode pakaian, bahasa, gaya hidup, pola piker, semuanya mereka ganti dengan kebudayaan impor dari barat. Sebagian tokoh mereka mengatakan bahwa apabila ingin maju kita harus menjiplak barat seutuhnya. Inilah krisis yang paling berbahaya, krisis identitas atau kepribadian.

  1. Ar Riddah (pemurtadan atau menumbangkan aqidah)
            “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 149). Ketika pikiran ummat Islam sudah tercemari, gaya hidup sudah terwarnai, tidak ada lagi Identitas Islam yang tersisa, maka tumbanglah aqidah ummat Islam.

Sikap kita?

            Saya mengamati belum banyak atau hanya sebagian saja Kader Da’wah yang memahami bahwa ini adalah peperangan, yang artinya kita juga harus menyerang. Kita tidak hanya bertahan saja dari serbuan musuh – musuh Islam, tapi kita juga harus merancang strategi bagaimana membalas serangan musuh – musuh kita. Seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ra. : "al haqqu billa nizham yughlibul bathila bi nizham - Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

            Ketika mereka membuat Film yang merusak akhlak, maka kita harus memperbanyak Film-Film Islami yang tujuannya memperindah akhlak ummat Islam. Ketika mereka meluncurkan tulisan – tulisan yang membuat ummat resah, kita sibuk memperbanyak tulisan – tulisan yang menyemangati dan membentengi ummat dari kerusakan aqidah maupun moral. Ketika cafe – cafe ramai didatangi, kita sibuk mengajak teman – teman maupun saudara – saudari kita untuk meramaikan majelis – majelis ‘ilmu yang bermanfaat. Ketika mereka mempunyai media yang membabi buta memojokkan Islam, kita sedang menabung atau mungkin sedang berusaha untuk membuat media yang independent untuk kepentingan ummat. Ketika mereka bangga dengan hafalan lagu – lagu barat, kita sedang berikhtiar menghafal 30 Juz Qur’an beserta mempelajari tafsirnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Referensi yang bisa dibaca :

-          Materi Tarbiyah Islamiyah
-          Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah karya Jasiman, Lc
-          Kolom Ghazwul Fikr di majalah Al - Intima’
-          Islam Liberal 101 karya Akmal Sjafril
-          50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme, Dan Liberalisme Agama karya Budi Handrianto
-          Pengantar Memahami Ghazwul Fikri karya Abu Ridha


Wassalamu’alaikum W. W.

Bimandhika M. Putro
Kaderisasi PK KAMMI Teknik UNDIP 2012

Inilah yang Membuat Kita Khas dan Istimewa


Resume Madrasah KAMMI 1 (MK1)
Materi : Ke-KAMMI-an (Filosofi Gerakan KAMMI)


Kali ini kita akan menyelami sebuah gerakan mahasiswa yang fenomenal saat ini, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Kenapa dikatakan fenomenal? 14 tahun yang lalu, belum genap satu bulan setelah dideklarasikan, KAMMI melakukan gebrakan aksi perdananya yang mengejutkan, berta-juk “Rapat Umum Mahasiswa dan Rakyat Indonesia” di lapangan Masjid Al-Azhar, Jakarta, pada tanggal 10 April 1998, dihadiri oleh lebih dari 20 ribu orang dari berbagai kalangan, serta berjalan dengan tertib dan aman. Menyusul aksi perdananya di Jakarta, KAMMI terus menggulirkan aksi-aksi demonstrasinya di berbagai kampus dan kota yang menjadi jaringannya. Terjadi akselerasi bobot aksi yang luar biasa, baik secara kualitas maupun kuantitas, dihitung dari masa kelahirannya dan dibandingkan dengan kelompok-kelompok aksi mahasiswa lainnya. Dan saat ini bisa dikatakan KAMMI adalah gerakan mahasiswa yang paling “laku” diantara gerakan lainnya.

KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H dengan Fahri Hamzah (UI) dan Haryo Setyoko (UGM) sebagai Ketua dan Sekretaris Umum KAMMI pusat pertama. Dan saat ini Muhammad Ilyas, Lc (LIPIA) dan , ST (UIN Sunan Gunung Jati Bandung) sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jendral KAMMI 2011-2013.


FILOSOFI GERAKAN KAMMI

Berdasarkan Risalah Manhaj Kaderisasi 1427 H KAMMI, landasan filosofi gerakan KAMMI mencakup visi, misi, prinsip gerakan, karakter organisasi, paradigma gerakan, unsur-unsur perjuangan dan kredo gerakan KAMMI.


Visi KAMMI

Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami.

Dalam makna global, visi merupakan esensi dari sebuah ide besar yang terlintas dalam benak seseorang atau sebuah organisasi yang pada intinya menyangkut masa depan kemana seorang atau organisasi hendak diarahkan hingga menghasilkan suatu karya yang konsisten dan dinamis. Seperti mimpi, sebuah visi terkesan hanya sebuah angan-angan. Yang membedakan hanyalah tataran misi dan strategi yang jelas dan terencana. Sehingga visi tersebut terealisasikan dengan aksi-aksi yang jelas, dan terukur.

KAMMI meyakini bahwa Islam adalah rahmat bagi bangsa Indonesia dan bagi seluruh alam, karena Islam adalah agama Allah yang sempurna dan paripurna, yang telah meliputi seluruh aspek kehidupan. Sehingga KAMMI dengan potensi keimanan, keislaman, intelektual, dan kecendikiawanan sebagai anugerah Allah SWT meletakkan dirinya sebagai kawah candradimuka untuk menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara yang Islami di Indonesia sehingga terbentuk bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dalam lindungan ampunan Allah SWT. (Anggaran Dasar KAMMI)

Dan sekarang tugas kita bagaimana Islam itu “memanusia” lalu “memasyarakat” dan “menegara”. (Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta, Lc)


Misi KAMMI

  1. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
  2. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
  3. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara.
  4. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
  5. Mengembangkan kerjasama antar elemen bangsa dan negara dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).


Dari misi KAMMI tersebut, tergambarkan secara global bahwa ada keterikatan yang searah dengan visi yang dicita-citakan oleh KAMMI. Hal ini dapat dilihat dari kelima misi tersebut yang menyeluruh dalam pencapaian visi tersebut. Pembinaan keimanan, keislaman, dan ketaqwaan mahasiswa muslim menjadi langkah riil pertama yang dilakukan KAMMI sebelum melakukan aksi perjuangan dan pergerakan KAMMI itu sendiri. Sebab inilah modal utama seorang muslim dalam setiap aktifitasnya. Keimanan, keislaman, dan ketaqwaan menjadikannya selalu berada dalam bingkai ketundukan pada Allah swt semata.

Selanjutnya, potensi dakwah, daya intelektual, sosial, dan politik mahasiswa merupakan modal selanjutnya yang harus digali, dikembangkan, dan dimantapkan, sehingga dapat memacu pergerakan dan perjuangan KAMMI untuk terus menggelorakan semangat reformasi dan perbaikan dalam segala bidang. Dengan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik menjadikan kader KAMMI mampu untuk memberikan solusi dan melakukan perubahan yang signifikan bagi bangsa ini. Di lain sisi, masyarakat madani, rabbani, adil, dan sejahtera yang merupakan cita-cita pergerakan KAMMI dilakukan dengan pencerahan dan peningkatan kualitas masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan penyelesaian permasalahan bangsa, dilakukan dengan langkah strategis dalam mengoptimalkan peran mahasiswa Indonesia, yaitu dengan mempelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerja sama antar mahasiswa, dan elemen lain yang memiliki kesamaan tujuan untuk perbaikan bangsa. Khusus untuk pengembangan kerja sama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar), mengantarkan KAMMI mencapai cita-cita mulia, yaitu masyarakat madani, rabbani, adil dan sejahtera.


Prinsip Gerakan KAMMI

KAMMI bangga dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Nikmat yang tiada duanya, tiada bandingnya dan tiada yang serupa dengan kenikmatan itu. Itulah nikmat Islam dan iman. Dengan nikmat ini umat Islam harus bangga, karena ia lebih mulia dan dimuliakan. Umat Islam harus tampil berwibawa di hadapan musuh-musuh yang sudah sejak lama mereka menghinakan dan merendahkan Islam.

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang yang beriman” (QS. Ali Imran : 139)

Maka dengan ini KAMMI meyakini semboyan yang menjadi prinsip gerakan KAMMI bahwa :

Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
olusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI


Karakter Organisasi

KAMMI adalah organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatul ‘amal).

KAMMI memandang pengkaderan menjadi setengah pekerjaannya. Kaderisasi merupakan sebuah upaya yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis (sesuai Manhaj Kaderisasi KAMMI), maka kaderisasi di dalam organisasi KAMMI bukanlah sebagai sebuah kewajiban melainkan sebagai sebuah kebutuhan. Karena kaderisasi merupakan sebuah kebutuhan, maka tanggungjawab untuk menghasilkan kader-kader KAMMI (Muslim Negarawan) bukanlah menjadi tugas dan tanggung jawab departemen kaderisasi semata, melainkan menjadi tugas bersama dari seluruh elemen organisasi dari tingkat komisariat hingga pusat

Lalu tidak hanya mengkader saja tapi KAMMI harus beramal nyata. Masih terngiang-ngiang kata-kata yang dilontarkan Akh Rijalul Imam (Mantan Ketua Umum KAMMI Pusat) ketika mengisi Stadium General (SG) Training Pengkader Daerah (TPD) yang diadakan oleh PD KAMMI Semarang kalau tidak salah Tahun 2010, kata beliau KAMMI itu ada 5 Komitmen. Pertama Komitmen Kesatuan, ukhuwah. Kedua Komitmen Aksi, ‘amal nyata. Bagi yang berfikir Aksi yang dipandang KAMMI hanya turun ke jalan (Demonstrasi) maka itu adalah pemikiran yang sempit. Aksi dalam arti luas itulah yang diinginkan KAMMI. KAMMI mempunyai departemen sosial kemasyarakatan (pengembangan masyarakat) yang menjadi ujung tombak aksi sosial KAMMI. Ketiga Komitmen Mahasiswa, Intelektual. Keempat Komitmen Muslim, Ideologi. Dan yang kelima Komitmen Indonesia, Kebangsaan.


Paradigma Gerakan KAMMI

Paradigma adalah cara pandang seseorang atau organisasi mengenai suatu hal. Paradigma inilah yang mengantarkan pemikiran seseorang terhadap sesuatu dari sisi yang berbeda. Dan dari paradigma inilah yang akan membingkai pemahaman seseorang akan sesuatu hal. Keterkaitannya dengan visi-misi dalam sebuah organisasi, memungkinkan pergerakan organisasi tersebut dalam bingkai yang telah direncanakan dan ditentukan. Hal inilah yang akan menuntun dalam pencapaian visi melalui garis besar kerja sebuah misi. Paradigma Gerakan KAMMI:

1.    KAMMI adalah Gerakan Da’wah Tauhid

a.    Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah swt.
b.    Gerakan Da’wah Tauhid merupakan gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradaban kemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (Ilahiyyah) yang mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin).
c.    Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan perjuangan berkelanjutan untuk menegakkan nilai kebaikan universal dan meruntuhkan tirani kemungkaran (amar ma’ruh nahi munkar)


2.    KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik

a.    Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal
b.    Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal
c.    Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.


3.    KAMMI adalah Gerakan Sosial Independen
a.    Gerakan Sosial Independen adalah gerakan kritis yang menyerang sistem peradaban materialistik dan menyerukan peradaban manusia berbasis tauhid.
b.    Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan kultural yang berdasarkan kesadaran dan kesukarelaan yang berakar pada nurani kerakyatan.
c.    Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan pembebasan yang tidak memiliki ketergantungan pada hegemoni kekuasaan politik-ekonomi yang membatasi.


4.    KAMMI adalah Gerakan Politik Ekstraparlementer
a.    Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan perjuangan melawan tirani dan menegakkan demokrasi yang egaliter.
b.    Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan sosial kultural dan struktural  yang berorientasi pada penguatan rakyat secara sistematis dengan melakukan pemberdayaan institusi-institusi sosial/rakyat dalam mengontrol proses demokrasi formal


Unsur-unsur Perjuangan

Agar da’wah dapat tumbuh berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada orientasi yang benar, mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya maka KAMMI menyusun dirinya atas unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Bina’ al-qo’idah al-ijtima’iyah (membangun basis sosial), yaitu membangun lapisan masyarakat yang simpati dan mendukung perjuangan KAMMI yang meliputi masyarakat umum, mahasiswa, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh, dan lain sebagainya.
  2. Bina’ al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu  mambangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
  3. Bina’ al-qo’idah al-fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.
  4. Bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang


Kredo Gerakan

Saya pikir antum wa antunna sudah pasti sering mendengar Kredo Gerakan KAMMI di setiap syuro maupun kegiatan – kegiatan yang diadakan oleh KAMMI. Tidak hanya didengar tetapi kita juga harus merenungi setiap paragrafnya, berusaha untuk menjadi apa yang tertera di kredo gerakan.


KESIMPULAN

Berdasarkan landasan filosofi gerakan KAMMI yang mencakup visi, misi, prinsip, karakter organisasi, paradigma gerakan, unsur-unsur perjuangan dan kredo gerakan KAMMI, menjadikan KAMMI tetap berada dalam bingkai keIslaman. Landasan filosofi gerakan inilah yang merupakan landasan utama dan spirit perjuangan yang menjiwai pergerakan KAMMI. Dan dari landasan filosofi inilah diharapkan lahirnya kader-kader KAMMI dengan kekhasan dan keistimewaan yang tidak ada pada organisasi kemahasiswaan lainnya. Sehingga ciri yang melekat dari kader yang dihasilkan dari filosofi gerakan ini adalah integritas dan progresivitas kader di medan amal perjuangan Islam. Untuk akhirnya, tafsir inilah yang diinternalisasi dalam diri kader-kader KAMMI itu sendiri untuk kemudian merealisasikan tafsir-tafsir tadi dalam aksi-aksi nyata.


Referensi yang bisa dibaca :

  • Manhaj Kaderisasi 1427 H
  • Buku Pedoman Umum Implementasi Kaderisasi KAMMI Daerah Semarang
  • Dari Gerakan ke Negara karya Anis Matta
  • Ijtihad Membangun Basis Gerakan karya Amin Sudarsono
  • Menciptakan Momentum karya Rijalul Imam
  • Capita Selecta KAMMI : Membumikan Ideologi Menginspirasi Indonesia karya Rijalul Imam dkk.
  • Konstitusi KAMMI


Bimandhika M. Putro
Kaderisasi PK KAMMI Teknik UNDIP 2012

Peran KAMMI di Kampus

Jika pernah ada teman mahasiswa yang menanyakan dimana peran KAMMI di kampus? Kok tidak seperti HMI, PMII dan lain-lainnya? Pertanyaan seperti di atas pasti akan membuat kader KAMMI yang ditanyai akan sedikit (atau bias juga banyak, hehe) berfikir sebelum menjawabnya. Memang ketika kita membandingkan antara KAMMI dengan omek-omek yang lainnya tentu kita akan mengoleksi banyak perbedaan, mulai dari prinsip-prinsip dasar perjuangan, pola gerakan bahkan sampai pada performa dan penampilan kader-kadernya di gelanggang (baca; kampus). Itulah KAMMI karena memang kita berbeda.

Perbedaan antara KAMMI dengan omek lain, barangkali salah satunya adalah nuansa keagamaan yang kental. Tidak fair kalau ana hanya berstatemen demikian tanpa adanya bukti atau pengakuan. Berikut adalah pendapat seorang mahasiswa Undip tentang KAMMI. Ada seorang mahasiswa yang mengungkapkan keinginannya untuk ikut bergabung bersama KAMMI, dan setelah ditanya motivasinya, Ia menjawab “Pengin nambahin ilmu agama lah dengan bergaul bersama orang-orang alim. Ungkapan tersebut jelas mengambarkan bagaimana pandangan mahasiswa tentang KAMMI. Beberapa yang lain menganggap anggota KAMMI merupakan aktivis-aktivis yang memeiliki militansi luar biasa, apakah benar? Coba tanyakan pada diri Antum sendiri! (mohon maaf bagi pembaca yang bukan kader KAMMI). Ada satu lagi, temana ana yang kuliah di Undip, pernah kaget ketika mengetahui ana ikut KAMMI, ketika ana tanyakan kenapa? Beliau menjawab, KAMMI itu organisasi yang berat (Subhanallah).

Pandangan-pandangan mahasiswa tentang KAMMI di atas sedikit menggambarkan peranan KAMMI di kampus, KAMMI telah berhasil memberikan warna baru di dunia pergerakan mahasiswa, yaitu warna yang lebih islami dan lebih militan, luar biasa memang. Tapi sesungguhnya hal itu merupakan tanggung jawab kita sebagai kader KAMMI untuk kemudian menjaga dan meningkatkan predikat-predikat baik tersebut agar tetap tersemat pada tubuh KAMMI.

Sebagai OMEK (organisasi mahasiswa ekstra kampus), KAMMI, sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, memiliki peran sentral sebagai lembaga aspiratif luar kampus yang akan menghembuskan wacana-wacana, kritikan, maupun masukan-masukan seputar pergerakan mahasiswa maupun pelaksanaan birokrasi di kampus. Hal ini sangat perlu dilakukan demi menjaga dinamisasi kehidupan kampus. Apalagi KAMMI memiliki jaringan sampai pada tingkat nasional dahkan internasional, sehingga dapat memberikan penilaian, perbandinga serta rekomendasi-rekomendasi yang lebih komprehensif demin kemajuan kampus.

Tapi kemudian apakah KAMMI sudah menjalankan perannya tersebut? Dalam menjawab pertanyaan ini akan muncul dua sudut pandang yang berbeda, pertama dari dalam kampus, apakah peranan KAMMI sebagai omek, sebagai lembaga aspiratif telah tampak dan dirasakan? Jawabannya antara ya dan tidak. (atau tidak tahu, karena banyak mahasiswa yang tidak mau tahu). Yang kedua sudut pandang dari intern KAMMI sendiri, pertanyaannya sama, namun tidak cukup hanya menjawab ya dan tidak saja (haram bagi kader manjawab tidak tahu). Kalau jawabannya ya, Bagus!, tapi kalau jawabannya tidak atau belum, maka muncul satu pertanyaan lanjutan, MENGAPA? Apakah karena KAMMI masih berkutat pada permasalahan internal saja, sehingga tidak sempat mengurusi problematika kampus? Atau selama ini KAMMI hanya merekrut dan merekrut tanpa kemudian menyumbangkan kader-kadernya untuk duduk membangun kampus? Atau KAMMI tidak punya cita-cita untuk kesana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebuah aoutokritik buat kita, kader-kader KAMMI.

Tapi Antum tak perlu terlalu menghawatirkan hal itu, karena menurut ana menurut ana jawabannya adalah ya. Ya!, KAMMI selama ini sudah meposisikan diri sebagai basis kader-kader berkopetensi tinggi yang siap untuk duduk bersama membangun kampus tercinta. KAMMI selama ini telah memposisikan dirinya sebagai lembaga aspiratif yang senantiasa kritis menyikapi kebijakan-kebijakan kampus dan merekomendasikan solusi-solusi untuk kemajuan Universitas. Hanya saja perlu kita akui bahwa peranan ini dirasa belumlah maksimal, oleh karena itu perlu untuk lebih dimaksimalkan lagi.

Bentuk konkrit terkait peranan KAMMI (sebagai omek) di kampus misalnya dengan mendelegasikan kader-kadernya untuk berprtisipasi dalam penyelenggaraan organisasi mahasiswa di kampus. Hal ini dapat kita lihat, bahwa hampIr semua kader KAMMI memegang amanah di kampus baik sebagai pengurus SKI, HMJ, BEM, DMF maupun di UKM-UKM.

Itulah sedikit ulasan yang semoga dapat memberi gambatran singkat tentang peran KAMMI di Kampus, semoga bermanfaat bagi diri ana pribadi dan bagi Antum yang membacanya. Aamiin.


Dikutip dari kammium.wordpres.com dengan beberapa penyesuaian.

Aksi Untuk Rohingya


Oleh Fadhila Fatma P.

 "Bebaskan Muslim Rohingya!"

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa!"

"Boikot SEA Games berikutnya yang dilaksanakan di Myanmar!"

Orasi-orasi para demonstran yang disiarkan di televisi pagi ini. Ummi yang sedang mengunyah nasi gorengnya sebagai sarapan menatap layar kaca itu nyaris tanpa kedip. Terhampar di meja makan, koran hari ini yang baru saja diantar sang loper, headline tentang penderitaan Muslim Rohingya.

Beberapa waktu belakangan ini memang sedang gempar berita tentang penindasan terhadap Muslim Rohingya di Arakan, karena tak diakuinya mereka sebagai warga negara Myanmar. Ummi sih sebetulnya cuma sesekali membaca berita tentang itu via internet, tapi bacaan yang sedikit itu membuatnya ingin melakukan sesuatu untuk saudaranya itu.

Terlintas di benaknya, bagaimana kalau mengadakan aksi? Tapi diizinkan pihak sekolah tidak, ya?

Maka pada istirahat pertama, Ummi menemui Hanif, wakil ketua sekaligus koordinator akhwat Rohis SMA-nya.

"Kita jangan bisa diam saja melihat saudara kita dibantai seperti itu!" serunya berapi-api. Tak peduli bahwa mereka sedang berada di depan pintu mushola yang dipadati siswa yang baru saja selesai Dhuha. "Beruntung kita di sini masih bisa shalat Dhuha, gimana dengan mereka yang di sana? Shalat wajib saja susahnya minta ampun!"

Hanif mendengarkannya sambil lalu. Dalam hatinya, dia juga menginginkan ada gebrakan yang dilakukan Rohis untuk menunjukkan kepedulian pada muslim di sana. Tapi apa?

"Jadi kamu pengin kita bikin kayak istighasah, gitu?" tanya Hanif.

"Gak cuma itu. Kita harus turun ke jalan!"

"What?" Mulut Hanif membulat sempurna.

"Kok kaget?"

"Yang bener aja? Aksi? Sejarah baru tuh, seumur-umur belum ada sekolah di kabupaten ini yang siswanya turun aksi."

"Makanya kita bikin sejarah!"

Hanif tertawa. "Aku sih juga seneng banget kalau kita bisa aksi. Tapi, emang boleh sama pihak sekolah?"

"Yee, makanya aku ngomong sama kamu, Ibu Waketu. Biar kamu yang ngelobi Pak Rochmad."

"Ntar aku bicarakan sama Recky dulu deh ya. Kalau dia setuju, kita bisa ngomong ke Pak Rochmad. Kalau disetujui, kita baru mengerahkan massa. Gimana, Bu Sekre?" Hanif gantian memanggil Ummi dengan jabatannya.

Untuk sementara, semangat Ummi yang berapi-api tertahan oleh bel tanda istirahat selesai.

Tanpa buang tempo, sebelum guru pelajaran berikutnya masuk, Hanif menghubungi Recky, ketua Rohis mereka. Recky sih dengan cueknya menyerahkan semua urusannya pada Hanif, jadilah sepulang sekolah, Ummi menemani Hanif menghadap Pak Rochmad, sang Wakasek Bidang Kesiswaan.

"Oh, boleh. Tapi saya belum tahu, boleh aksi di jalan raya, nggak. Soalnya itu kan jalan negara. Kalau kalian pakai jalan di belakang sekolah yang lebih kecil, mungkin masih boleh. Keliling aja di jalan itu, yang sekaligus melewati Rumah Dinas Bupati," enteng sekali jawaban Pak Rochmad.

Hati kedua siswi itu melonjak gembira.

"Teknisnya gimana?" lanjut Pak Rochmad.

"Belum kita bicarakan sih, Pak," Hanif yang menjawab. "Saya mau izin dulu sama Pak Rochmad, kalau diizinkan, baru nanti Rohis yang mengerahkan massa."

"Yang mau orasi siapa emang?"

"Ehm... Kalau itu, kayaknya Ummi bisa, Pak," sahut Hanif, mengernyit kesakitan saat Ummi menendang kakinya di bawah meja.

Meskipun begitu, malamnya Ummi membuat kliping dari koran langganannya. Takut kalau kata-kata Hanif tadi ternyata sungguhan. Jadi, itung-itung persiapan orasi lah.

Muslim Rohingya, atau oleh orang Myanmar disebut “Bengali”, tidak memiliki kewarganegaraan yang jelas. Menurut pemerintah Myanmar, orang Rohingya adalah warga Bangladesh sehingga harus dipulangkan ke negara tersebut. Namun, pemerintah Bangladesh malah justru merepatriasi warga Rohingya karena tidak mengakui mereka sebagai warga negara. Tidak ayal, Rohingya terus menjadi korban diskriminasi.

... kekejian itu dilakukan oleh oknum Buddha yang tidak menyukai keberadaan Muslim di wilayah utara negara tersebut...

... dibantu militer, sweeping tersebut hanya menargetkan etnis Muslim Rohingya. Mereka, terang Rofiq, menggeledah setiap rumah, merampas perhiasan dan harta benda, serta kebutuhan pangan lainnya...

... aksi mutilasi organ tubuh juga dilakukan...

... pembakaran rumah ibadah, dan pengosongan pemukiman agar bersih dari etnis Muslim Rohingya...

* * *

Esoknya, Hanif dan Ummi dipanggil untuk menemui Pak Rochmad di ruangannya.

"Gimana rencana aksi kalian, jadi?" tanya Pak Rochmad setelah berbasa-basi sejenak.

"Belum sempat dibahas lagi, Pak," jawab Hanif. "Tapi saya juga sudah ngobrol sama beberapa anak Rohis."

"Yah, sebetulnya gini..." Pak Rochmad berdeham. "Setelah saya diskusi dengan Guru Agama, beliau bilang, sebaiknya kasus Rohingya ini dipikir masak-masak, jangan sekadar emosional saja."

"Maksudnya gimana, Pak?"

"Kata Pak Bambang, guru Agama, kejadian di Rohingya itu tidak seheboh yang diduga. Bahkan menurut SBY, Sebenarnya itu hanya masalah antar-etnis saja di sana, tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah Myanmar, apalagi sampai ada genosida segala. Hoax itu."

Penjelasan Pak Rochmad membuat dahi Hanif dan Ummi mengerut. Lah, kemarin siapa yang malah mengusulkan teknis aksi? Kenapa sekarang malah berbalik opini begini?

"Tapi, Pak, bukankah di berita-berita juga sudah disebutkan..." Hanif mencoba membantah.

"Memangnya kalian sudah pernah ketemu langsung sama orang Rohingya?" sela Pak Rochmad.

Hanif diam saja.

"Berita itu belum tentu akurat. Percaya saja sama SBY. Orang presiden RI saja sudah menyatakan tidak ada genosida, kenapa kita malah ribut-ribut soal itu? Mending bantuin saja daerah-daerah di Indonesia yang kena bencana alam, daripada ngurusin negara luar sana yang belum jelas kebenarannya."

Ummi sudah siap membantah. Kalau berita saja dibilang belum tentu akurat, pernyataan SBY juga lewat berita, kan? Tentunya itu belum pasti akurat juga, kan? Apalagi lebih banyak berita yang membeberkan diskriminasi dan penderitaan Muslim Rohingya daripada pernyataan hoax kasus tersebut. Lagipula, kalau PM Turki yang jauh di sana saja sudah melihat langsung fakta di Myanmar, kenapa Presiden Indonesia yang dekat begini malah kalem-kalem saja? Harusnya Indonesia dong yang jadi pionir pembela sesama muslim di sana?

Hanif melihat raut wajah Ummi yang seperti siap menerkam. Tahu kebiasaan kawannya yang emosional itu, dia menggenggam tangan Ummi tanpa terlihat oleh Pak Rochmad, berusaha memenangkannya. Ummi mengerti makna genggaman itu, dan dengan jengkel mengalihkan pandangan ke mana saja untuk mengalihkan emosinya.

Komentar Pak Rochmad selanjutnya bahkan tidak didengarnya. Apa pun, baginya intinya sama saja. Tentu saja Pak Rochmad lebih mempercayai Pak Bambang, hanya karena posisinya sebagai guru Agama Islam di sini, jadi dianggap paling mumpuni dalam bidang agama. Padahal, Ummi tahu persis, komentar Pak Bambang selalu sinis terhadap pemahaman semacam ini, yang menurut beliau ekstrem. Tapi Ummi pun diam saja, sebab dia pun menyadari, salah langkah sedikit saja, Rohis bisa dianggap ekstrem, bisa-bisa dibekukan seperti kejadian beberapa tahun silam.

Sebagai ekspresi "balas dendam", Ummi pun memprovokasi Hanif dan pengurus inti Rohis lainnya untuk mengadakan saja penggalangan dana dalam lingkup internal sekolah. Dalam hal ini, Hanif setuju, begitu pula Recky. Akhirnya mereka pun dibagi menjadi beberapa tim, sebagian mengurus perizinan, sebagian bertugas keliling kelas untuk menggalang dana.

Entah bagaimana prosesnya, tim perizinan menyampaikan ada lampu hijau dari Pak Bambang yang juga sebagai pembina Rohis. Meski begitu, rupanya Pak Bambang belum mengoordinasikan guru lain terkait rencana ini. Di beberapa kelas yang mereka masuki, para guru menanyakan surat izin untuk kegiatan ini. Tim keliling ini kelabakan, karena tim perizinan sama sekali tidak mengatakan tentang surat izin!

Ternyata tim perizinan hanya mendapat persetujuan Pak Bambang lewat lisan. Ummi pun membuatkan surat izin yang ditandatangani Pak Bambang, dan setelah melihat tanda tangan itu, Pak Rochmad pun bersedia menandatanganinya.

Sepulang sekolah, mereka semua berkumpul di sekretariat Rohis. Mana lagi kalau bukan mushola? Semuanya menghitung jumlah uang yang berhasil mereka kumpulkan.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka nyeletuk, "Mi, ngomong-ngomong, ini dana sebanyak ini mau disalurkan lewat mana?"

Ummi sendiri terperangah. Baru ingat, dia bahkan belum berpikir ke sana!


==============================================================


Nah, buat teman-teman yang ingin menyalurkan bantuan dana untuk Muslim Rohingya, tapi bingung mau disalurkan lewat mana, KAMMI Teknik Undip menerima bantuan dana dari teman-teman untuk mereka.

Caranya?

Tinggal hubungi Akh Ihsan (085693113381) atau Akh Eko (085664503782).

Kasusnya udah basi?

Hmm... Media boleh saja berhenti memberitakannya, tapi penderitaan mereka sama sekali belum berhenti.

Bantuan dana dan doa teman-teman masih sangat dibutuhkan. ^_^




Sumber berita:
http://www.dakwatuna.com/2012/08/22180/hidayat-nur-wahid-ke-myanmar-bahas-rohingya/#ixzz24jYRdGL0
http://www.republika.co.id/berita/internasional/tragedi-rohingya/12/08/04/m88o7j-inilah-pengakuan-seorang-muslim-rohingya
http://video.tvonenews.tv/arsip/view/59841/2012/08/05/sby_tidak_ada_indikasi_pembantaian_etnis_di_myanmar.tvOne

KAMMI Semarang Gelar Aksi Solidaritas Muslim Rohingnya

Semarang - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Semarang mengadakan aksi solidaritas Muslim Rohingya. Aksi tersebut digelar di lokasi ex-videotron Pahlawan, Semarang hari ini (1/8), pukul 09.30-11.00.

Berbagai Pengurus Komisariat (PK) KAMMI yang ada di bawah naungan KAMMI Semarang turut meramaikan aksi tersebut, di antaranya adalah PK KAMMI Fakultas Teknik, Fakultas Sains dan Matematika, dan Fakultas Ilmu Budaya yang kesemuanya merupakan fakultas yang ada di Universitas Diponegoro, serta Universitas Negeri Semarang.

Mereka menginginkan adanya ketuntasan dan kejelasan atas kasus diskriminasi yang dialami oleh etnis  Rohingya, Myanmar, agar tidak menjadi salah paham isu yang beredar di masyarakat, sehingga Muslim Rohingya tidak menjadi korban karena tidak mengetahui faktor masalah yang ada di lingkungannya sendiri.

Peserta aksi menuntut Presiden SBY untuk mendesak Sekretaris Jenderal ASEAN mengeluarkan Myanmar sebagai anggota ASEAN, dan meminta pemerintah segera memberikan bantuan logistik dan tenaga medis kepada etnis Rohingya.

"Tuntutan kami untuk mengeluarkan Myanmar sebagai anggota ASEAN, selain karena perlakuan diskriminasi terhadap etnis Rohingya, juga karena Myanmar menjadi satu-satunya negara ASEAN yang tidak mengizinkan secara bebas negara-negara ASEAN lain untuk memasuki Myanmar," demikian orasi Kepala Departemen Kebijakan Publik KAMMI Semarang, Barri Pratama.

Barri juga mengimbau agar Indonesia memboikot SEA Games 2013 yang akan dilaksanakan di Myanmar.

Aksi ini juga diselingi oleh teatrikal yang menggambarkan terusiknya kedamaian Muslim Myanmar oleh para diskriminator di Myanmar, serta usaha Indonesia untuk menghapuskannya. Sebab, seperti yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." (fafa)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money